, | DHANDY YUSUF SAHYADI | BLOG
Floating Right

Teori Organisasi Umum 1 - Kepemimpinan

Leadership is the ability to influence a group toward the achievement of goals

    Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.

   Kepemimpinan adalah mempengaruhi atau mendapatkan pengikut (John C. Maxwell). Dalam kasus ini, dengan sengaja mempengaruhi dari orang ke orang lain dalam susunan aktivitasnya dan hubungan dalam kelompok atau organisasi.
    Seorang pemimpin harus mempunyai keahlian dan pengetahuan yang sangat luas yang diperoleh melalui pengembangan diri. Pengembangan diri ini menghasilkan keterampilan-keterampilan seperti keterampilan teknis, keterampilan manajemen sumber daya manusia, dan  keterampilan konseptual. Kepemimpinan adalah kekuasaan untuk mempengaruhi seseorang, baik dalam mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakansesuatu. Jika semakin tinggi kedudukan seorang pemimpin dalam organisasi maka semakin dituntut daripada nya kemampuan berfikir secara konsepsional, strategis dan makro. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi maka ia akan semakin generalist, dan semakin besar tanggung jawab terhadap suatu kelompok atau organisasi yang dia tangani, sedangkan semakin rendah kedudukan seseorang dalam organisasi maka dia menjadi spesialist.

Tipe-Tipe Kepemimpinan                      
Dalam tipe-tipe kepemimpinan terdapat 6 macam tipe, yaitu:

1. Tipe Otokratis 
Ciri-cirinya antara lain:
a.       Mengandalkan kepada kekuatan/ kekuasaan.
b.      Menganggap dirinya paling berkuasa.
c.       Keras dalam mempertahankan prinsip.
d.      Jauh dari para bahawan.
e.       Perintah diberikan secara paksa.

2. Tipe Laissez Faire 

Ciri-ciri antara lain:
a.       Memberi kebebasan kepada para bawahan.
b.      Pimpinan tidak terlibat dalam kegiatan.
c.       Semua pekerjaan dan tanggung jawab dilimpahkan kepada bawahan.
d.      Tidak mempunyai wibawa.
e.       Tidak ada koordinasi dan pengawan yang baik.


3. Tipe Paternalistik 

Ciri-ciri antara lain:
a.       Pemimpin bertindak sebagai bapak.
b.      Memperlakuakn bawahan sebagai orang yang belum dewasa.
c.       Selalu memberikan perlindungan.
d.      Keputusan ada ditangan pemimpin.

4. Tipe Militerlistik
Ciri-ciri antara lain:
a.       Dalam komunikasi menggunakan saluran formal.
b.      Menggunakan sistem komando/ perintah.
c.       Segala sesuatu bersifat formal.
d.      Disiplin yang tinggi, kadang bersifat kaku.

5. Tipe Demokratis
Ciri-ciri antara lain:
a.       Berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi.
b.      Bersifat terbuka.
c.       Bawahan diberi kesempatan untuk memberi saran dan ide-ide baru.
d.      Dalam pengambilan keputusan utamakan musyawarah untuk mufakat.
e.       Menghargai potensi individu.

6. Tipe Open Leadership 
Tipe ini hampir sama dengan tipe demokratis, Perbedaannya terletak dalam hal pengambilan keputusan, dalam tipe ini keputusan ada ditangan pemimpin.

Teori Kepemimpinan

    Ada beberapa teori tentang kepemimpinan secara umum adalah sebagai berikut: menurut Wursanto (2004:197) mengatakan bahwa:
   “Ada enam teori kepemimpinan, yaitu teori kelebihan, teori sifat, teori keturunan, teori kharismatik, teori bakat, dan teori social”.
1. Teori Kelebihan  
Bedasarkan teori kelebihan diatas dapat di simpulkan bahwa seseorang yang menjadi pemimpin harus memiliki sifat-sifat yang lebih dari para pengikutnya agar mampu menjadi panutan dan teladan baik secara kelebuhan ratio, kelebihan rohaniah, dan kelebihan badaniah. 
  
2. Teori Sifat
Teori ini menyatakan bahwa seseorang yang dapat menjadi pemimpin yang baik, apabila memiliki sifat-sifat yang lebih dari pada orang-orang yang dipimpinya, jika kita lihat pada dasarnya sama dengan teori kelebihan. Seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat positif, misalnya:, adil, suka melindungi, penuh percaya diri, mempunyai daya tarik, energik, persuasif komunikatif dan kreatif. (Wursanto,2003:198). 

3. Teori Keturunan
Menurut Wursanto (2003:199) mengatakan bahwa: 
“Yang menyatakan bahwa seseorang dapat  menjadi pemimpin karena keturunan atau warisan, karena orang tuanya seorang pemimpin maka anaknya otomatis akan menjadi pemimpin mengantikan orang tuanya, seolah-olah seseorang menjadi pemimpin karena ditakdirkan” 

4. Teori Kharismatis 
Menurut Wursanto (2003:199) mengatakan bahwa: 
"Menyatakan bahwa seseorang menjadi pemimpin karena mempunyai karisma (pengaruh) yang sangat besar. Karisma itu di peroleh dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam hal ini ada suatu kepercayaan masyarakat bahwa orang itu adalah pancaran zat tunggal, sehingga diangap mempunyai kekuatan gaib (supranatural/power). Pemimpin yang bertife kharismatik biasanya memiliki daya tarik kewibawaan da pengaruh yang sangat besar."
5. Teori Bakat  
Menurut teori ekologis, menyatakan bahwa: 
“Pemimpin itu lahir karena bakatnya”. Hal ini harus di kembangkan secara terus-menerus, misalnya dengan memberikan kesempatan kepada orang tersebut menduduki suatu jawabatan" (Wursanto, 2003:200).
6. Teori Sosial
Menurut Wursanto (2003:200) mengatakan bahwa: 
“Pada dasaranya setiap orang dapat menjadi pemimpin”. Setiap orang mempunyai bakat menjadi pemimpin asal dia diberikan kesempatan. Setiap orang dapat didik menjadi pemimpin karena masalah kepemimpinan dapat di pelajari, baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman praktek."

Kasus Kepemimpinan
KASUS-5 "Kehilangan Kursi"
   Sebuah organisasi manufakturing yang mempunyai karyawan sekitar 270 orang mempekerjakan seorang manajer pabrik baru dengan maksud untuk mengurangi biaya-biaya produksi, meningkatkan kualitas produk, dan memperbaiki produktifitas karyawan. Pekerjaan adalah melelahkan dan kondisi-kondisi pekerjaan sangat tidak menyenangkan. Ini terutama disebakan oleh panas dan debu yang ditimbulkan dalam proses produksi. Hari kerja dibagi menjadi 3 shift, dimana lama waktu setiap shift adalah 8 jam, tanpa waktu makan yang ditetapkan secara eksplisit. Para karyawan biasanya membeli makan dan minuman dari warung-warung dari sekitar pabrik dan minum atau makan sambil bekerja. Teknisi keamanan pabrik mengemukakan bahwa gang-gang yang digunakan untuk lalu lintas truk-truk pengangkut barang sering terhambat atau terganggu oleh lalu lalang para karyawan yang memerlukan dan membeli minuman dan makanan. Manajer baru mengambil keputusan untuk membangun sebuah cafetaria untuk mengurangi bahaya keamanan ini dan untuk memberikan kepada karyawan sebuah tempat makan jauh dari proses produksi yang tidak meyenangkan.

      Setelah bangunan diselesaikan, para karyawan mulai makan di cafetaria seperti yang diharapkan. Bagaimanapun juga meninggalkan lokasi pekerjaan menunjukkan secara implisit adanya periode istirahat untuk makan bagi para karyawan. Waktu yang dihabiskan para karyawan untuk keperluan tersebut tentunya naik secara menyolok dan sebagai akibatnya terjadi penurunan produktivitas. Manajer pabrik kemudian memutuskan bahwa untuk menghindari karyawan mondar mandir ke cafetaria, dia akan memindahkan kursi-kursi. Karyawan marah karena "kenyamanan" yang selama ini mereka rasakan telah diambil. Konsultan pengembangan organisasi (organization development), setelah diperkenalkan, memperoleh informasi dari serangkaian wawancara bahwa karyawan tidak pernah menginginkan cafetaria. Mereka sesungguhnya menginginkan lokasi yang lebih aman dari truk-truk pengangkut barang. 

PERTANYAAN
    Apa kesalahan-kesalahan pokok yang dibuat manejemen dalam proses perubahan tersebut? Jelaskan!

ANALISIS KASUS
 1.  Kesalahan pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat
   Pembagian waktu kerja untuk para karyawan pada kasus diatas seharusnya harus ditetapkan secara jelas dan nyata. Dengan menerapkan jam/waktu kerja secara jelas dan nyata, tujuan organisasi manufakturing diatas untuk meningkatkan kualitas produk dan memperbaiki produktifitas karyawan dapat terpenuhi.
     
    Pada kasus diatas, waktu makan yang ditetapkan secara implisit meneyebabkan pro duktifitas dan kualitas karyawan menjadi labil. Karena tidak ada kejelasan waktu bekerja. Para karyawan dapat mondar-mandir dari pabrik ke warung-warung sekitar pabrik dengan bebasnya untuk membeli makanan dan minuman, lalu makanan dan minuman tersebu dapat disantap saat bekerja. Tentu hal ini mengurangi fokus dan kualitas karyawan dalam melakukan pekerjaan yang dimana manajer baru ini dituntut untuk memperbaiki kualitas dan produktifitas karyawan. Maka diperlukan pengaturan waktu bekerja dengan waktu istirahat secara eksplisit.

       Dengan hari kerja yang dibagi menjadi 3 shift dimana lama waktu setiap shift adalah 8 jam, waktu bekerja harus seoptimal mungkin diciptakan dengan waktu istirahat. Yaitu dengan membuat 2 kali waktu istirahat dengan rentang waktu istirahat pertama 10 menit. Dan rentang waktu istirahat kedua 20 menit. Setelah waktu bekerja 2 jam pertama, karyawan diberi waktu 10 menit untuk keluar membeli makanan dan minuman untuk sesi istirahat pertama dan juga bisa untuk membeli makanan untuk sesi istirahat kedua sehinggakaryawan tidak perlu mondar-mandir ke warung. Dan juga waktu istirahat harus disesuaikan dengan waktu lalu-lintas truk-truj pengangkut barang agar tidak menghambat lalu lalang karyawan.

2.  Membuat "Cafetaria" tanpa Meminta Pendapat dari Karyawan
    Pembangunan cafetaria ini sangat tidak efisien dan efektif bila dilihat dari tujuan awal organisasi dengan menunjuk manajer baru untuk mengurangi biaya-biaya produksi. Dengan membangun cafetaria, mungkin si manajer baru ini mempunyai itikad baik untuk mengoptimalisasi waktu kerja karyawan dengan menyediakan tempat istirahat. Tetapi tanpa adanya pengawasan dari organisasi terhadap karyawan, karyawan akan merasa diberi kebebasan untuk mengambil waktu istirahat lebih karena seperti yang telah diungkapkan diatas, tidak ada pengaturan waktu kerja secara eksplisit. Malah akan memperburuk waktu kerja karyawan dan menyebabkan penuruna kualitas kerja dan produktifitas karyawan.

       Manajer baru ini sepertinya menganut tipe kepemimpinan campuran antara tipe Otokritas dan tipe Laissez Faire. Karena manajer ini tidak menggunakan tipe kepemimpinan demokratis yang dimana dalam tipe demokratis ini, pemimpin harus bersifat terbuka dan mengambil keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat dari saran-saran dan ide-ide karyawan. Manajer baru ini jauh dari bawahan dan memperi perintah secara paksa. Tidak mempunyai wibawa dan tidak ada koordinasi dan pengawasan yang baik. 
READMORE
 

Sikap 'Cerdas' Menghadapi Jalan Kesuksesan

"There are no shortcuts to success. Kesuksesan akan datang pada mereka yang sungguh-sungguh berusaha untuk mendapatkannya, bukan pada mereka yang hanya menunggu dan mengharapkannya. Tidak ada kata putus asa untuk menjadi sukses. "


     Orang yang "akan" dan "pasti" sukses adalah orang yang tidak pernah takut "jatuh" dan terus mencoba. Tidak ada kata kapok dan trauma walaupun terus "terjatuh" dan terus mengalami kegagalan. Kegagalan adalah celah dan peluang untuk mencapai kesuksesan.

     Kegagalan adalah jalan untuk mencapai kesuksesan. Itulah kesimpulan dari penelitian selama bertahun-tahun terhadap orang-orang yang telah sukses. Yang dicoba ditemukan dari mereka adalah: Bagaimana dan mengapa mereka tergerak untuk menjadi yang terbaik dan teratas di bidang-bidang yang mereka kuasai.

     Apakah sebenarnya yang mereka ketahui dan lakukan untuk mencapai, meraih, dan menjadi orang yang sukses? Apakah mereka hanya diam? Apakah mereka hanya menunggu? Apakah mereka mengharapkan kesuksesan itu datang dengan sendirinya? Berikut ada tujuh hal yang dilakukan mereka dalam meraih sukses:

1. Orang sukses mau mengambil resiko
 
     Yang mau terus mengambil resiko, yang akan semakin dekat untuk meraih sukses. Mereka yang berupaya untuk mencapai target, melakukan perubahan, melakukan penghematan, dan membangun hubungan atau relasi dengan banyak orang guna mencari ilmu dan pengalaman, serta cekatan mencoba sesuatu yang baru guna mengikuti perkembangan zaman.

2. Orang sukses percaya diri dan merasakan bahwa mereka berbuat sesuatu untuk dunia mereka
     
     Mereka yang sadar, bahwa karya terbaiklah yang akan menghasilkan sesuatu bagi mereka. Mereka yang memandang sebuah dunianya yang besar dan ingin memainkan pernan penting di dalamnya. Mereka tetap bekerja sesuai dengan keterampilan mereka dan tetap menyadari bahwa keterampilan inti memberi keterampilan lainnya.

3. Orang sukses menikmati apa yang sedang mereka lakukan
 
     Mereka yang mampu melihat pekerjaan sebagai kesenangan. Mereka yang memilih bekerja dimana mereka dapat unggul. Mereka yang sukses menyukai tantangan di tempat mereka bekerja, maka mereka akan dapat menikmati pencapaian sukses pekerjaan mereka.

4. Orang sukses adalah pelajar seumur hidup
 
     Mereka yang menyadari bahwa pendidikan tak pernah berakhir tapi dimulai di setiap tingkatan kehidupan dan terus berlanjut hinggan akhir kehidapan. Pendidikan tidak hanya terbatas di ruang kelas, dimana mereka yang mencoba ide baru membaca berbagai macam buku, surat kabar, majalah, dan menggunakan internet merupakan suatu pendidikan. Karena itu, tetaplah mengalir perubahan ketertarikan dan kemampuan anda, dan nikmati perubahan. Maka niscaya akan sangant membantu dalam menumbuhkan sikap percaya diri.

5. Orang sukses berpandangan positif terhadap apa yang dapat mereka kerjakan
 
     Mereka yang percaya ketika gelas itu setengah penuh dan bukan setengah kosong. Mereka yang menanamkan semangat pada diri sendiri dan dapat membayangkan diri bagaimana mereka berhasil menyelesaikan suatu tugas sulit atau mencapai penghargaan yang tertinggi.

        Orang yang sukses akan bertindak bagai pelatih dan motivator bagi orang lain, dengan memberikan kritik-kritik dan saran dalam bentuk yang positif dalam setiap event sehari-hari.

6. Orang sukses punya banyak cara untuk memotivasi diri sendiri sehingga dapat terus berkarya lebih baik dari yang lain.

     Mereka yang memotivasi dirinya sendiri dengan menunjukkan dan melihat kelebihan orang lain sebagai patokan, dan mencoba menyamainya bahkan melebihinya.

7. Orang sukses menyelesaikan tugas tidak setengah-setengah, dan mereka memiliki pola pikir kreatif dalam meraih sukses
 
   Mereka yang mampu memanfaatkan waktu dengan baik dengan mensinergikan kemampuan fisik dan mental untuk mencapai sukses.

Sumber: http://www.wisdomhypnotherapy.com/tujuh-7-sikap-menuju-sukses
READMORE
 

Kekuasaan dan Wewenang, Teknik-Teknik Pengambilan Keputusan, dan Unsur-Unsur Komunikasi

PERTANYAAN
1. Apa perbedaan antara kekuasaan dan wewenang?
2. Apa saja teknik-teknik pengambilan keputusan?
3. Apa saja unsur-unsur komunikasi?

JAWAB
1.  Perbedaan Kekuasaan dan Wewenang
Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain artinya kemampuan untuk mengubah sikap atau tingkah laku individu, kelompok, keputusan, atau kejadian. Kekuasaan berkaitan erat dengan yang namanya pengaruh(influence) yaitu tindakan atau contoh tingkah laku yang menyebabkan perubahan sikap atau tingkah laku orang lain atau kelompok.

Wewenang adalah hak untuk memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tujuan dapat tercapai. 

Jadi, Wewenang dapat kita artikan sebagai hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar mencapai tujuan tertentu sedangkan Kekuasaan adalah kemampuan  untuk menggunakan  pengaruh  pada  orang  lain;  artinya kemampuan  untuk mengubah  sikap  atau  tingkah  laku  individu  atau  kelompok

Perbedaan ada pada kata hak dan kemampuan,jika dalam wewenang kita dapat menggunakan hak kita untuk memerintah dan mengatur orang lain sedangkan dalam kekuasaan ,kita memang memiliki kemampuan untuk mengatur atau memerintah orang lain.

2.    Teknik-Teknik Pengambilan Keputusan

a. Teknik –Teknik Kreatif
Tipe pendekatan ini mencoba untuk memanfaatkan semua hal yang tersedia untuk membantu individu dalam pengambilan keputusan kreatif.

Ada dua teknik dalam kelompok teknik kreatif ( Brainstorming dan Synectics).

Brainstorming, teknik ini berusaha untuk menggali dan mendapatkan kreatifitas maksimum dari  kelompok dengan memberikan kesempatan para anggota untuk melontarkan ide-idenya.
Synectics, didasarkan pada asumsi bahwa proses kreatif dapat dijabarkan dan diajarkan, dan dimaksudkan untuk meningkatkan keluaran (output)kreatif individual dan kelompok.

b. Teknik Partisipatif
Partisipasi sebagai suatu teknik berarti bahwa individu-individu atau kelompok-kelompokdilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.

Teknik-teknik partisipatif dapat diterapkan secara informal dengan basis individual atau kelompok atau dengan basis program formal. Teknik-teknik partisipasi individual adalah berbagai teknik dengan mana bawahan entah bagaimana mempengaruhi pengambilan keputusan atasan. Sedangkan Partisipasi Kelompok menggunakan teknik-teknik konsultatif dan Demokratik.

c. Teknik-teknik Pengambilan keputusan Modern
Dalam era computer sekarang ini . berbagai metode kuantitatif untuk pengambilan keputusan telah sangat berkembang.

Teknik-teknik Modern yang akan dibahas berikut adalah
•      Teknik Delphi.  Meskipun Delphi pertama kali dikembangkan oleh N. C. Dalkey dan rekan-rekannya dalam tahun 1950, baru pada decade sekarang menjadi terkenal sebagai suatu teknik untuk membantu pengambilan keputusan-keputusan yang mengandung esiko dan ketidakpastian, missal forecasting jangka panjang.

•     Teknik Kelompok Nominal,  suatu teknik modern lain yang berhubungan erat dengan Delphi adalah teknik kelompok nominal (nominal group technique) atau sering disebut proses pengambilan keputusan kelompok NGT.

3.    Unsur-Unsur Komunikasi
a. Sumber
b. Komunikator
c. Pesan
d. Channel/ Saluran
e. Komunikasi
f. Efek
g. Faktor- faktor yang diperhatikan dalam proses komunikasi

a. Sumber
Sumber adalah dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan dan digunakan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Sumber dapat berupa orang, lembaga, buku, dokumen dan sejenisnya.

b. Komunikator
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
-  Penampilan
Khusus dalam komunikasi tatap muka atau yang menggunakan media pandang dengan audio visual, seorang komunikator harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan komunikan. Penampilan ini sesuai dengan tata krama dengan memperhatikan keadaan, waktu dan tempat.
- Penguasaan masalah
Seseorang yang tampil atau ditampilkan sebagai komunikator haruslah betul- betul menguasai masalahnya. Apabila tidak, maka setelah proses komunikasi berlangsung akan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap komunikator dan akhirnya terhadap pesan itu sendiri yang akan menghambat terhadap efektivitas komunikasi.
-Penguasaan bahasa
Komunikator harus menguasai bahasa dengan baik. Bahasa ini adalah bahasa yang digunakan dan dapat dipahami oleh komunikan. Penguasaan bahasa akan sangat membantu menjelaskan pesan- pesan apa yang ingin kita sampaikan kepada audience.

c. Pesan
Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan ini mempunyai inti pesan yang sebenarnya menjadi pengarah di dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. Pesan dapat secara panjang lebar mengupas berbagai segi, namun inti pesan dari komunikasi akan selalu mengarah kepada tujuan akhir komunikasi itu.

d. Channel/ Saluran
Channel adalah saluran penyampaian pesan, biasa juga disebut dengan media. Media komunikasi dapat dikategorikan dalam dua bagian, yaitu media umum dan media massa. Media umum adalah media yang dapat digunakan oleh segala bentuk komunikasi, contohnya radio dan sebagainya. Media massa adalah media yang digunakan untuk komunikasi massa, misalnya televisi.

e. Komunikasi
Komunikasi dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu
1) Personal
2) Kelompok, dan
3) Massa

f. Efek
Efek adalah hasil akhir dari suatu komunikasi, yaitu sikap dan tingkah laku orang, sesuai atau tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Apabila sikap dan tingkah laku orang lain itu sesuai, maka komunikasi berhasil.

g. Faktor- faktor yang diperhatikan dalam proses komunikasi

•     Empat tahap proses komunikasi menurut Cutlip dan Center, yaitu:
- pengumpulan fakta
- Perencanaan
- Komunikasi
- Evaluasi

•    Prosedur mencapai effect yang dikehendaki menurut Wilbur Schraam, yaitu:
- Attention (perhatian)
- Interest (Kepentingan)
- Desire (Keinginan)
- Decision (Keputusan)
- Action (Tindakan)

READMORE
 

Kenapa orang Indonesia "Sangat Rajin" membuang sampah (?)


     Siapa yang tidak tahu dan tidak pernah melihat gambar/label diatas? Label tersebut kerap kali “menampakkan” diri di beberapa tempat atau benda. Botol plastik, bungkus makanan ringan, kaleng minuman bersoda, kardus, dll menjadi “tempat” untuk ditempeli label ini. 

      “Buanglah sampah pada tempatnya!”

     Ya. Kata tersebut adalah maksud dari label/gambar diatas sebagai himbauan agar orang yang memegang sampah tersebut membuangnya ke tempat sampah.

[Wajah Kota Jakarta]

     Berdasarkan artikel yang saya baca, Kota Megapolitan, Jakarta, dengan populasi kurang lebih 10 juta, memproduksi sampah per hari 6500 ton, terdiri dari 53% sampah rumah tangga dan 47% sampah industri.  Dan menurut beberapa sumber diprediksi dalam 5 tahun ke depan akan menjadi 8000 ton! *tepuktangan*. Produksi sampah sekarang ini sebanding dengan 28.000 m3, bila volume sampah ini dibayangkan dengan perbandingan luas lapangan bola (105 m x 70 m) dengan tinggi 1 m, maka per hari luas sampah DKI Jakarta ini hampir 4 kali lapangan bola dengan tinggi 1 m, PER HARI! Atau dari sumber yang saya cantumkan, volumenya hampir sama dengan setengah volume candi Borobudur (candi Borobudur volumenya 50.000 m3) Sekali lagi PER HARI!

[Ilustrasi Lapangan Bola dengan Lautan Sampah Jakarta]

     Sikap pemalas adalah hak setiap warga. Itu mutlak berlaku di Indonesia. Tetapi tidak mungkin sikap pemalas itu dijadikan mindset kita dalam menjaga kebersihan. Lihat saja dahulu tempat sampah disekitar kita, contohnya tempat sampah dikamar kita.


[Tempat sampah berantakan]
 


   Jalan-jalan jarang ada yang terlihat bersih. Sampah dibiarkan menumpuk di pinggir jalan,
yang menambah masalah baru bagi wajah dan kenyamanan kota Jakarta.


 [Jalan dipenuhi sampah]

     Kemudian belum lagi sampah yang menumpuk di sekitar pemukiman warga.

[ Anak kecil yang tinggal di daerah yang tergenang sampah ]

     Lihat saja, orang mudah meludah, membuang plastik makanan, punting rokok, bekas tissue, botol air minum sembarangan. Umunya, alasannya adalah kebiasaan membuah sampah ini terlalu merepotkan. Mereka malas untuk sekedar menyimpan sejenak bekas apapun dari barang konsumsinya lalu kemudian nanti dibuang di tempatnya.
Percaya atau tidak, dalam hal kecil buang sampah ini, kebanyakan orang Indonesia itu tak punya pemikiran yang setidaknya sedikit jauh ke depan. Kukira sudah terlalu banyak informasi yang menekankan bahwa buang sampah sembarangan itu tak baik. Bahkan, sudah berkali-kali dikobar-kobarkan.
 
     Di Indonesia ini, tak semua orang juga kotor. Masih banyak yang bersihan. Cuma di sini memang tak ada aturan untuk hidup bersih. “Mereka” sibuk korupsi.


Sumber:
http://jakarta.kompasiana.com/layanan-publik/2013/02/28/korelasi-sampah-dki-jakarta-dan-truk--522869.html
http://green.kompasiana.com/polusi/2013/01/12/orang-indonesia-yang-rajin-buang-sampah-sembarangan-518928.html
READMORE
 

Teori Organisasi Umum 1 - Konflik Organisasi

     Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.

     Kenapa dapat timbul konflik? Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda.

KONFLIK

Sebelum kita mempelajari lebih lanjut tentang konflik, apa definisi dan maksud dari kata “Konflik”? Menurut saya, Konflik adalah suatu proses antara dua orang atau lebih dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkannya atau membuatnya menjadi tidak berdaya. Tetapi Konflik yang dapat terkontrol akan menghasilkan integrasi yang baik, namun sebaliknya integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan suatu konflik.
Pengertian konflik dalam organisasi menurut Robbins (1996) adalah Suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh terhadap pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif.

JENIS-JENIS KONFLIK

     Konflik dapat dibedakan menurut pihak-pihak yang saling bertentangan. Atas dasar hal ini , ada 5 jenis konflik , yaitu :

Ada 5 jenis konflik dalam kehidupan organisasi yaitu,
1.    Konflik dalam diri individu, yang terjadi bila sesorang indivdu menghadapi ketidakpastian tentang pekerjaan yang dia harapkan untuk melaksanakannya. Bila berbagai permintaan saling bertentangan, atau bila individu diharapkan untuk melakukan lebih dari kemampuannya.
2.    Konflik antar individu dalam organisasi yang sama, dimana hal ini sering diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan kepribadian. Konflik ini berasal dari adanya konflik antar peranan (seperti antara manajer dan bawahan).
3.    Konflik antara individu dan kelompok, yangberhubungan dengan cara individu menanggapi tekanan untuk keseragaman yang dipaksakan oleh kelompok kerja mereka.
4.    Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama, karena terjadi pertentangan kepentingan antar kelompok atau antar organisasi.
5.    Konflik antar organisasi, yang timbul sebagai akibat bentuk persaingan ekonomi dalam sistem perekonomian suatu negara. Konflik ini telah mengarahkan timbulnya pengembangan produk baru, teknologi, dan jasa, harga-harga lebih rendah , dan penggunaan sumber daya lebih efisien.

SUMBER-SUMBER KONFLIK
 
a. Kebutuhan untuk membagi (sumber daya-sumber daya) yang terbatas. 
b. Perbedaan-perbedaan dalam berbagai tujuan.
c. Saling ketergantungan kegiatan-kegiatan kerja.
d. Perbedaan nilai-nilai atau persepsi.
e. Kemandirian organisasional.
f. Gaya-gaya individual.

STRATEGI PENYELESAIAN KONFLIK

Teknik -teknik utama untuk memecahkan konflik organisasi:
•    Introspeksi diri,
•    Mengevaluasi pihak-pihak yang terlibat ,
•    Identifikasi sumber konflik.

     Spiegel (1994) menjelaskan ada lima tindakan yang dapat kita lakukan dalam penanganan konflik :
a. Berkompetisi
b. Menghindari konflik
c. Akomodasi
d. Kompromi
e. Berkolaborasi

     Menurut Wijono (1993 : 66-112), untuk mengatasi konflik dalam diri individu diperlukan paling tidak tiga strategi yaitu:

1) Strategi Kalah-Kalah (Lose-Lose Strategy)

     Beorientasi pada dua individu atau kelompok yang sama-sama kalah. Biasanya individu atau kelompok yang bertikai mengambil jalan tengah (berkompromi) atau membayar sekelompok orang yang terlibat dalam konflik atau menggunakan jasa orang atau kelompok ketiga sebagai penengah.

     Dalam strategi kalah-kalah, konflik bisa diselesaikan dengan cara melibatkan pihak ketiga bila perundingan mengalami jalan buntu. Maka pihak ketiga diundang untuk campur tangan oleh pihak-pihak yang berselisih atau barangkali bertindak atas kemauannya sendiri. Ada dua tipe utama dalam campur tangan pihak ketiga yaitu:
a. Arbitrasi (Arbitration)
Arbitrasi merupakan prosedur di mana pihak ketiga mendengarkan kedua belah pihak yang berselisih, pihak ketiga bertindak sebagai hakim dan penengah dalam menentukan penyelesaian konflik melalui suatu perjanjian yang mengikat.
b. Mediasi (Mediation)
Mediasi dipergunakan oleh Mediator untuk menyelesaikan konflik tidak seperti yang diselesaikan oleh abriator, karena seorang mediator tidak mempunyai wewenang secara langsung terhadap pihak-pihak yang bertikai dan rekomendasi yang diberikan tidak mengikat.

2) Strategi Menang-Kalah (Win-Lose Strategy)
 
     Dalam strategi saya menang anda kalah (win lose strategy), menekankan adanya salah satu pihak yang sedang konflik mengalami kekalahan tetapi yang lain memperoleh kemenangan.

     Beberapa cara yang digunakan untuk menyelesaikan konflik dengan win-lose strategy (Wijono, 1993 : 44), dapat melalui:
a. Penarikan diri, yaitu proses penyelesaian konflik antara dua atau lebih pihak yang kurang puas sebagai akibat dari ketergantungan tugas (task independence).
b. Taktik-taktik penghalusan dan damai, yaitu dengan melakukan tindakan perdamaian dengan pihak lawan untuk menghindari terjadinya konfrontasi terhadap perbedaan dan kekaburan dalam batas-batas bidang kerja (jurisdictioanal ambiquity).
c. Bujukan, yaitu dengan membujuk pihak lain untuk mengubah posisinya untuk mempertimbangkan informasi-informasi faktual yang relevan dengan konflik, karena adanya rintangan komunikasi (communication barriers).
d. Taktik paksaan dan penekanan, yaitu menggunakan kekuasaan formal dengan menunjukkan kekuatan (power) melalui sikap otoriter karena dipengaruhi oleh sifat-sifat individu (individual traits).
e. Taktik-taktik yang berorientasi pada tawar-menawar dan pertukaran persetujuan, sehingga tercapai suatu kompromi yang dapat diterima oleh dua belah pihak, untuk menyelesaikan konflik yang berkaitan dengan persaingan terhadap sumber-sumber (competition for resources) secara optimal bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

3) Strategi Menang-Menang (Win-Win Strategy)
     Penyelesaian yang dipandang manusiawi, karena menggunakan segala pengetahuan, sikap dan keterampilan menciptakan relasi komunikasi dan interaksi yang dapat membuat pihak-pihak yang terlibat saling merasa aman dari ancaman, merasa dihargai, menciptakan suasana kondusif dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi masing-masing dalam upaya penyelesaian konflik. Jadi strategi ini menolong memecahkan masalah pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, bukan hanya sekedar memojokkan orang.

     Strategi menang-menang jarang dipergunakan dalam organisasi dan industri, tetapi ada 2 cara didalam strategi ini yang dapat dipergunakan sebagai alternatif pemecahan konflik interpersonal yaitu:

a. Pemecahan masalah terpadu (Integrative Problema Solving). 
Usaha untuk menyelesaikan secara mufakat atau memadukan kebutuhan-kebutuhan kedua belah pihak.
b. Konsultasi proses antar pihak (Inter-Party Process Consultation). 
Dalam penyelesaian melalui konsultasi proses, biasanya ditangani oleh konsultan proses, dimana keduanya tidak mempunyai kewenangan untuk menyelesaikan konflik dengan kekuasaan atau menghakimi salah satu atau kedua belah pihak yang terlibat konflik.

MOTIVASI
 
     Motivasi adalah suatu sugesti atau dorongan yang muncul karena diberikan oleh seseorang kepada orang lain atau dari diri sendiri, dorongan tersebut bermaksud agar orang tersebut menjadi orang yang lebih baik dari yang sebelumnya. Motivasi juga bisa diartikan sebagai sebuah alasan yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang.

     Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan.

     Motivasi dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
  • Motivasi Fisiologis
  • Motivasi Psikologis

TEORI MOTIVASI

a. Teori X dan teori Y Mc Gregor
 
Anggapan-anggapan yang mendasari teori X :
1.Rata-rata para pekerja itu malas, tidaksukabekerjadan akan menghindarinyabila dapat.
2.Karenapada dasarnya pekerja tidaksukabekerja, maka harus dipaksa, dikendalikan, dipelakukan denganhukuman, dan diarahkan untukpencapaiantujuan organisasi.
3.Rata-rata para pekerja lebih senangdibimbing, berusaha menghindari tanggung-jawab, mempunyai ambisi yang kecil, keamanan drinya di atas segala-galanya

Anggapan-anggapan yang mendasari teori Y :
1.Usaha phisik dan mental yang dilakukan manusia dalam bekerja adalah kodrat manusia, sama halnya dengan bermain atau beristirahat.
2. Rata-rata manusia bersedia belajar, dalam kondisi yang layak, tidak hanya menerima tetapi mencari tanggung-jawab.
3. Ada kemampuan yang besar dalam kecerdikan, kreativitas dan dayaimajinasi untuk memecahkan masalah-masalah organisasi yang secara luas tersebar pada seluruh karyawan.
4. Pengendalian ekstern dan hukuman bukan satu-satunya cara untuk mengarahkan usaha pencapaian tujuan organiasasi.
5. Keterikatan pada tujuan organisasi adalah fungsi penghargaan yang diterima karena prestasinya dalam pencapaian tujuan itu.
6. Organisasi seharusnya memberikan kemungkinan orang untuk mewujudkan potensinya, dan tidak hanya digunakan sebagian.

b. Teori Motivasi Kebutuhan
  
     Menurut Maslow ada 5 kebutuhan dasar manusia yang membentuk hirarki kebutuhan, yaitu :
1. Kebutuhan Fisiologis
2. Kebutuhan Keamanan
3. Kebutuhan Sosial
4. Kebutuhan Penghargaan
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri

c. Teori Motivasi Berprestasi Mc Clelland

     Menurut Mc Clelland, seseorang dianggap mempunyai motivasi prestasi yang tinggi, apabila dia mempunyai keinginan untuk berprestasi lebih baik dari pada yang lain dalam banyak situasi.
Mc Clelland memusatkan perhatiannya pada tiga kebutuhan manusia yaitu :
1. Kebutuhan Prestasi
2. Kebutuhan Afiliasi
3. Kebutuhan Kekuasaan.

d. Teori Motivasi Dua Faktor Herzberg

     Menurut Herzberg ada dua faktor yang mempengaruhi motivasi kerja seseorang dalam organisasi, yaitu pemuas kerja (job satisfier) yang berkaitan dengan isi pekerjaan dan penyebab ketidakpuasan kerja (job dissafisfiers) yang bersangkutan dengan suasana pekerjaan Satisfiers disebar motivators dan dissatifiers disebut faktor-faktor yang higienis.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik
http://fitria-sumawardani.blogspot.com/2012/11/konflik-organisasi_14.html
http://pengertianmanagement.blogspot.com/2013/03/manajemen-konflik-definisi-ciri-sumber.html
READMORE