, | DHANDY YUSUF SAHYADI | BLOG
Floating Right

Teori Organisasi Umum 2 - Pengambilan Keputusan dalam Organisasi



 Seorang pemuka agama mengunjungi seseorang yang dirawat dirumah sakit. Sesudah berbicara beberapa menit, lalu dia menerangkan bahwa dokter-dokter telah memberitahukannya bahwa si pasien hanya akan hidup antara setengah sampai satu tahun lagi. Selama waktu itu si pasien harus tinggal di rumah sakit. Makin lama makin hebat penderitaan dan perasaan sakitnya. Pasien ini mempunyai uang tabungan untuk istri dan empat orang anaknya. Kalau ia harus tinggal di rumah sakit, tentu uang itu akan habis, bahkan ia kemungkinan akan mempunyai hutang yang besar. Akhirnya ia berkata: "Jika saya tidak meminum obat saya, saya segera akan meninggak dalam waktu satu minggu. Obat yang harus saya minum adalah obat baru. Orang yang sakit seperti saya akan meninggal dengan cepat. Tetapi saya dan keluarga saya harus lama menderita. Kalau saya tidak minum obat tersebut, apakah saya berarti membunuh diri?". Bagaimana pemuka agama itu harus menjawab? Apa yang harus dilakukan pasien itu?

Dalam contoh diatas, dijelaskan bahwa keputusan yang harus diambil pasien diatas menyangkut pertimbangan tentang apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik dan apa yang buruk. Setiap tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari, sesungguhnya didasari oleh keputusan yang diambilnya. Apabila keputusan-keputusan yang diambil merupakan keputusan yang rutin diambil, maka setiap tindakan seolah-olah dilakukan begitu saja secara alami tanpa perlu pertimbangan. Padahal itu tidaklah benar sepenuhnya. Di luar itu, sering kali seseorang dihadapkan pada permasalah yang perlu dipertimbangkan matang-matang sebelum mengambil keputusan. Terutama karena kita mempunyai berbagai keterbatasan. Konsep dasar dalam pengambilan keputusan akan dijelaskan pada tulisan dibawah ini.

DEFINISI DAN DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan adalah salah satu tindakan pemilihan alternatif. Pengambilan keputusan sangat berkaitan dengan fungsi manajemen. Misalnya, saat seorang manajer merencanakan, mengelola, dan mengontrol, mereka membuat keputusan tertentu. Pelopor teori manajemen, Fayol dan Urwick, membahas pengambilan keputusan dimana mengenai pengaruhnya pada delegasi dan kewenangan, kemudian Bapak Manajemen - Frederick W Taylor hanya menyinggung metode ilmiah sebagai pendekatan untuk pengambilan keputusan. Pada teori organisasi modern, analisis awal untuk pengambilan keputusan dapat ditelusuri pada Chester Bernard. Dalam The Functions of the Exec, Bernard memberikan analisis mengenai pengambilan keputusan yang menyatakan 
"Proses keputusan ... merupakan teknik untuk mempersempit pilihan. " - Chester Bernard
Setiap proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan suatu solusi final. Dimana outputnya dapat berupa suatu action (aksi) atau dapat juga berupa suatu opinion terhadap solusi tersebut.

Beberapa ahli mnegemukakan Definisi Pengambilan Keputusan diantaranya:
  • A. Menurut George R. Terry, pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
  • B. Menurut Sondang P. Siagian, pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat.
  • C. Menurut James A. F. Stoner, pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.
Dari beberapa pendapat dan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa suatu pengambilan keputusan adalah suatu cara penerapan ilmu dan teknologi yang digunakan untuk memberikan suatu pendapat, opini, ataupun solusi yang dapat memberikan penyelesaian suatu masalah dengan menggunakan teknik pemecahan masalah tertentu dan ditujukan untuk dapat diterima semua pihak agar goal organisasi terealisasi.

Menurut George R.Terry dan Brinckloe disebutkan dasar-dasar pendekatan dari pengambilan keputusan yang dapat digunakan yaitu :
  • 1. Intuisi, Pengambilan keputusan yang didasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif sehingga mudah terkena pengaruh.
  • 2. Pengalaman, Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat diperhitungkan untung ruginya terhadap keputusan yang akan dihasilkan. Orang yang memiliki banyak pengalaman tentu akan lebih matang dalam membuat keputusan akan tetapi, peristiwa yang lampau tidak sama dengan peristiwa yang terjadi kini.
  • 3. Fakta, Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan-keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.
  • 4. Wewenang, Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya.
  • 5. Logika/Rasional, Pengambilan keputusan yang berdasarkan logika ialah suatu studi yang rasional terhadap semuan unsur pada setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pengambilan keputusan secara logika terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
  1. Kejelasan masalah.
  2. Orientasi Tujuan : Kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai.
  3. Pengetahuan Alternatif : Seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya.
  4. Preferensi Yang Jelas : Alternatif bisa diurutkan sesuai criteria.
  5. Hasil Maksimal : Pemilihan alternatif terbaik didasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal.
JENIS-JENIS KEPUTUSAN ORGANISASI
Dalam perusahaan besar, every single of decision which created by the management sangatlah krusial dan menentukan berhasil atau tidaknya suatu perusahaan mencapai tujuannya. Keputusan-keputusan dalam suatu organisasi terdapat beberapa jenis yang dalam saat tertentu dipakai dalam menentukan keputusan. Jenis keputusan dalam suatu orgaisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut. Keputusan harus dapat melibatkan seluruh elemen dalam organisasi. Baik elemen yang membuat keputusan itu bekerja dan elemen dimana keputusan tersebut diputusan. 

Secara garis besar jenis keputusan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan terbagi menjadi dua bagian yaitu :
  • A. Keputusan Rutin, Keputusan Rutin adalah Keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang serta biasanya telah dikembangkan untuk mengendalikannya.
  • B. Keputusan Tidak Rutin, Keputusan tidak Rutin adalah Keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.
Secara umum jenis pengambilan keputusan dapat dikategorikan dalam dua bentuk, yakni keputusan terprogram dan keputusan tidak terprogram (Siagian, 1987:25-26; Salusu, 1996:63).
  • A. Keputusan Terprogram, Keputusan terprogram adalah tindakan menjatuhkan pilihan yang berlangsung berulang kali dan diambil secara rutin dalam organisasi. Keputusan terprogram biasanya menyangkut pemecahan masalah-masalah yang sifatnya teknis serta tidak memerlukan pengarahan dari tingkat manajemen yang lebih tinggi.
  • B. Keputusan Tidak Terprogram, Keputusan tidak terprogram muncul sebagai akibat dari suatu situasi di mana ada suatu kemendesakan untuk segera mengambil tindakan dan memecahkan masalah yang timbul. Biasanya keputusan ini bersifat repetitif, tidak terstruktur dan sukar mengenali bentuk, hakekat dan dampaknya.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Menurut Terry (1989), faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut:
  • A. Hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan; 
  •  B. Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi;
  • C. Setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain; 
  • D. Jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan;
  • E. Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik; 
  • F. Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang  cukup lama; 
  • G. Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik; 
  • H. Setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul; dan 
  • I. Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya.
Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut mempengaruhi pengambilan keputusan.
  • A. Fisik, Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan. 
  • B. Emosional, Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective. 
  • C. Rasional, Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya. 
  • D. Praktikal, Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.
  • E. Interpersonal, Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual. 
  • F. Struktural, Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.

IMPLIKASI MANAJERIAL
Para manajer merupakan agen utama perubahan dalam sebagian besa organisasi. Dengan keputusan ang mereka buat dan perilaku mereka yang menjadi model peran, mereka membentuk kultur perubahan dalam organisasi. Sebagai contoh, keputusan manajemen yang terkait dengan desain struktur, faktor kultur, dan kebijakan sumber daya manusia banyak menentukan tingkat inovasi dalam organisasi. Serupa dengan hal ini, keputusan, kebijakan, dan praktik-praktik manajemen akan mentukan tingkat sampai mana organisasi belajar dan beradaptasi dengan faktor-faktor lingkungan yang senantiasa berubah.


"Setiap orang bisa marah- hal ini mudah dilakukan. Tetapi marah pada orang yang tepat, di waktu yang tepat, dengan intensitas yang benar, dan cara yang benar. Inilah yang paling sulit dilakukan." - Aristoteles

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Nachrowi Djalan Nachrowi, PhD. Hardius Uman, Msi, TEKNIK PENGAMBILAN KEPUTUSAN, Grasinda Gramedia Indonesia.
[2]. Malcom Brownlee, PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS DAN FAKTOR-FAKTOR DI DALAMNYA -- Cet. 12, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta: Gunung Mulia, 2006.
[3]. Stephen P.Robbins. Timothy A.Judge, Perilaku Organisasi, Edisi 12, Buku 2, Penerbit Salemba Empat, Jakarta:2008.
[4]. Kenneth C.Laudon. Jane P.Laudon, SISTEM INFORMASI MANAJEMEN, Edisi 10, Buku 2, Penerbit Salemba Empat, Jakarta:2008.
[5]. AH Pohan, Be A Smart Leader: Rahasia di Balik Keputusan CEO dan Manajer Hebat, Penerbit Pustaka Grhatama(Anggota Ikapi), Jogjakarta:2010.
[6]. Hasal Ismail, BAB 5 dan 6 DEFINISI dan DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN, http://hasanismail25.wordpress.com/2013/05/15/bab-5-dan-6-definisi-dan-dasar-pengambilan-keputusan/. Diakses pada Minggu, 11 Mei 2014, pukul 09.50 WIB.
[7]. Ahmad Kurnia, SPd,MM, PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PERILAKU ORGANISASI, http://teknikkepemimpinan.blogspot.com/2013/07/pengambilan-keputusan-dalam-perilaku.html. Diakses pada Minggu, 11 Mei 2014, pukul 08.45 WIB.
[8]. Lastiko Runtuwene, S.Ag, M.Pd,  Jurnal: KEPEMIMPINAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PARTISIPATIF DALAM ORGANISASI PENDIDIKAN-SEKOLAH. http://sulut.kemenag.go.id/file/file/Katolik/xcjq1363633187.pdf. Diakses pada Minggu, 11 Mei 2014, pukul 12.03 WIB.

READMORE
 

Teori Organisasi Umum 2 - Kepemimpinan

Sosok satu ini memang tidak pernah membosankan untuk diulas dan diperbincangkan. Sosok yang fenomenal di Tanah Air ini selalu terkenang di hati masyarakat Indonesia. Dialah Sukarno, manusia yang dilahirkan di bumi nusantara dengan berbagai talenta. Mulai dari sosok romantis, karismatik, sampai seorang tokoh revolusioner, semua dimilikinya. Tidak salah jika beberapa orang mengatakan Tuhan menciptakan Sukarno sebagai manusia yang hampir sempurna. - See more at: http://www.amanahsystem.com/2013/04/mengenal-kepemimpinan-soekarno-presiden.html#sthash.cy8FMEUn.dpuf
Sosok yang satu ini sosok yang sangat saya kagumi dan saya menjadikannya sebagai sosok panutan saya. Beliau adalah salah satu dari banyak orang yang menarik untuk diulas dan diperbincangkan untuk dijadikan bahan untuk pemahaman konsep leadership pada tulisan kali ini. Sosok yang fenomenal di dunia Internasional Tanah Air kita, Indonesia, ini selalu terkenang di hati masyarakat Indonesia. Dialah KOESNO SOSRODIHARDJO atau rakyat Indonesia mengenalnya dengan nama Ir. Sukarno.


[Ir. Soekarno]

Bung Karno, begitulah kita sering baca artikel-artikel tentang beliau, adalah Sang Proklamator, seorang pemimpin yang mempunyai kemampuan membangkitkan semangat nasionalisme Rakyat Indonesia. Gaya kepemimpinan beliau sangat berbeda dengan tokoh pemimpin lain, mempunyai tempramen meletup-letup, dan tetapi tidak meninggalkan seni keindahan. Ir. Soekarno adalah pemimpin yang kharismatik, memiliki semangat pantang menyerah dan rela berkorban demi persatuan dan kesatuan serta kemerdekaan Bangsanya.

Gaya kepemimpinan yangg diterapkan oleh Ir. Soekarno berorientasi pada moral dan etika ideologi yang mendasari negara atau partai, sehingga sangat konsisten dan sangat fanatik, cocok diterapkan pada era tersebut. Sifat kepemimpinan yg jg menonjol dan Ir. Soekarno adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif & inovatif serta kaya akan ide dan gagasan baru. Sehingga pada puncak kepemimpinannya, pernah menjadi panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta pergerakan melepas ketergantungan dari negara-negara barat (Amerika dan Eropa).

A. Arti Penting Kepemimpinan
SIAPAKAH PEMIMPIN ITU?
Dalam bahasa Inggris pemimpin disebut leader.  Menurut Robbert D Stuart (2002: 352) bahwa pemimpin adalah seorang yang diharapkan mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi, memberi petunjuk dan juga mampu menentukan individu untuk mencapai tujuan organisasi. Seiring dengan itu James P. Spillane (2006: 10) menyatakan bahwa pemimpin itu agen perubahan dengankegiatan mempengaruhi orang-orang lebih daripada pengaruh orang-orang tersebut kepadanya
   
KONSEP KEPEMIMPINAN 
Kepemimpinan merupakan salah satu unsur penentu keberhasilan organisasi, terlebih lagi dalam menuju perubahan. Untuk memahami apa yang dimaksud dengan kepemimpinan (leadership) ada baiknya terlebih dahulu mengetahui arti pemimpin (leader). Hal ini disebabkan kepemimpinan dilakukan oleh seorang pemimpin dan ia mengemban tugas dengan beraktivitas untuk melaksanakan kepemimpinan tersebut. 

Beragam definisi dan konsep kepemimpinan yang ditemukan dalam berbagai bahan pustaka, yang masing-masing berbeda dalam penekanan arti.
1. Richard L. Daf (2005: 5) mendefinisikan kepemimpinan (leadership) adalah suatu pengaruh yang berhubungan antara para pemimpin dan pengikut (followers). 
2. Kemudian Gibson menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya menggunakan pengaruh untuk memotivasi orang-orang guna pencapaian suatu tujuan. 
3. Menurut George Terry, kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang lain agar mau bekerja dengan suka rela untuk mencapai tujuan kelompok.
4. Menurut Cyriel O'Donnell, kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain  agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum. 
Kepemimpinan adalah suatu kegiatan mempengaruhi orang lain agar orang tersebut mau bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan juga sering dikenal sebagai kemampuan untuk memperoleh konsensus anggota organisasi untuk melakukan tugas manajemen agar tujuan organisasi tercapai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan terdiri atas :
  1.  Mempengaruhi orang lain agar mau melakukan sesuatu.
  2.  Memperoleh konsensus atau suatu pekerjaan.
  3.  Untuk mencapai tujuan manajer.
  4.  Untuk memperoleh manfaat bersama.

B. Tipologi Kepemimpinan
Tiap pemimpin mempunyai suatu karakteristik yang diterapkan dalam melakukan suatu proses kepemimpinan yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Karakteristik ini disebut dengan Gaya Kepemimpinan. Pada dasarnya gaya kepemimpinan mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Davis dan Newstrom (1995) mengeluarkan pendapat yang sesuai dengan pengertian gaya kepemimpinan diatas. Keduanya mengatakan bahwa pola tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang di persepsikan atau dipacu oleh bawahan tersebut dikenal sebagai gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin terkembang beberapa tipe kepemimpinan, pada dasarnya dapat diterangkan mealui tiga aliran berikut ini:

1. Tipe Otokratis
Ciri-cirinya antara lain:
a.       Mengandalkan kepada kekuatan/ kekuasaan.
b.      Menganggap dirinya paling berkuasa.
c.       Keras dalam mempertahankan prinsip.
d.      Jauh dari para bahawan.
e.       Perintah diberikan secara paksa.

2. Tipe Laissez Faire
Ciri-ciri antara lain:
a.       Memberi kebebasan kepada para bawahan.
b.      Pimpinan tidak terlibat dalam kegiatan.
c.       Semua pekerjaan dan tanggung jawab dilimpahkan kepada bawahan.
d.      Tidak mempunyai wibawa.
e.       Tidak ada koordinasi dan pengawan yang baik.

3. Tipe Paternalistik
Ciri-ciri antara lain:
a.       Pemimpin bertindak sebagai bapak.
b.      Memperlakuakn bawahan sebagai orang yang belum dewasa.
c.       Selalu memberikan perlindungan.
d.      Keputusan ada ditangan pemimpin.

4. Tipe Militerlistik
Ciri-ciri antara lain:
a.       Dalam komunikasi menggunakan saluran formal.
b.      Menggunakan sistem komando/ perintah.
c.       Segala sesuatu bersifat formal.
d.      Disiplin yang tinggi, kadang bersifat kaku.

5. Tipe Demokratis
Ciri-ciri antara lain:
a.       Berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi.
b.      Bersifat terbuka.
c.       Bawahan diberi kesempatan untuk memberi saran dan ide-ide baru.
d.      Dalam pengambilan keputusan utamakan musyawarah untuk mufakat.
e.       Menghargai potensi individu.

6. Tipe Open Leadership
Tipe ini hampir sama dengan tipe demokratis, Perbedaannya terletak dalam hal pengambilan keputusan, dalam tipe ini keputusan ada ditangan pemimpin.

Pemimpin yang paling ideal dan menyeluruh, adalah yang pemimpin yang memegang prinsip seorang pemimpin yang demokratis. Namun untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepemimpinan
Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah pengetahuan dan keterampilan, karakteristik pribadi, nilai-nilai yang diyakini, penyimpangan, dan gaya dalam membuat keputusan. Variabel organisasi mencakup iklim dan budaya, politik organisasi, ancaman dan resiko, Ketidak-pastian, kerancuan, dan pertikaian. Sedangkan yang mencakup variabel sosial adalah kebutuhan resmi, meta –value, politik, dan ekonomi.

Dengan pola dikotomi, berdasarkan formula Hersey dan Blanchard serta penjelasan yang dikemukakan Kowalski dkk. di atas, penulis bisa membagi faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan menjadi dua faktor besar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang muncul dari diri pemimpin, sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang terkait dengan karakteristik bawahan dan situasi. Termasuk didalamnya situasi organisasi dan sosial.
  1. Faktor Internal, Sebagai seorang pribadi, pemimpin tentu memiliki karakter unik yang membedakannya dengan orang lain. Keunikan ini tentu akan berpengaruh pada pandangan dan cara ia memimpin. Ada karakter bawaan yang menjadi ciri pemimpin sebagai individu, ada kompetensi yang terbentuk melalui proses pematangan dan pendidikan.
  1. Faktor Eksternal, Faktor eksternal jika dikaitkan dengan formula Hersey dan Blanchard, adalah faktor bawahan dan situasi. Faktor bawahan adalah faktor yang disebabkan oleh karakter bawahan, di dalamnya terkait dengan status sosial, pendidikan, pekerjaan, harapan, ideologi, agama dll. Faktor-faktor itu tentu akan menentukan bagaimana pemimpin mengatur dan mempengaruhinya. Jika bawahan itu adalah siswa, maka pemipimpin akan menjalan pola kepemimpinan sesuai dengan karakter siswa. Karakter siswa pun akan berbeda-beda, ada yang belum dewasa sehingga pemimpin mendekatinya dengan pendekatan pedagogi, ada pula siswa yang sudah dewasa sehingga memerlukan pendekatan andragogi. Faktor eksternal lain adalah faktor situasi. Situasi ini berkaitan dengan aspek waktu, tempat, tujuan, karakteristik organisasi dll.
D. Implikasi Manajerial Kepemimpinan dalam Organisasi
Kepemimpinan memainkan peran yang sangat sentral dalam usaha memahami perilaku kelompok, karena pemimpinlah yang biasanya memberikan pengarahan untuk mengejar tujuan. Karena itu, kapabilitas perkiraan yang lebih akurat akan menjadi sangat bermanfaat untuk memperbaiki kinerja kelompok.

Para manajer merupakan agen utama perubahan dalam sebagian besar organisasi. Dengan keputusan yang mereka buat dan perilaku mereka yang menjadi model peran, mereka membentuk kultur perubahan dalam organisasi. Sebagai contoh, keputusan manajemen yang terkait dengan desain struktur, faktor kultur, dan kebijakan sumber daya manusia banyak menentukan tingkat inovasi dalam organisasi. Serupa dengan hal ini, keputusan, kebijakan, dan praktik-praktik manajemen akan menentukan tingkat sampai mana organisasi belajar dan beradaptasi dengan faktor-faktor lingkungan yang senantiasa berubah.

Tingkat konflik yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat menghambat keefektifan sebuat kelompok atau organisasi, sehingga menyebabkan turunnya tingkat kepuasan anggota,  naiknya tingat ketidakhadiran dan perputaran karyawan (turnover), dan pada akhirnya anjloknya produktivitas.  Nasihat apa yang dapat kita berikan kepada para manajer yang menghadapi konflik berlebihan dan perlu menurunkannya? Sebagai manajer anda harus memilih cara yang tepat sesuai dengan situasi.

a.]Gunakan cara persaingan, ketika tindakan yang cepat dan menentukan sangat penting.
b.]Gunakan cara kolaborasi, untuk mencari solusi integratif ketika kepentingan dari kedua pihak terlalu penting untuk dikompromikan.
c.]Gunakan cara penghindaran, ketika sebuah isu tidak begitu penting atau ketika isu yang lebih penting mendesak untuk ditangani.
d.]Gunakan cara akomodasi, ketika anda mendapati diri anda salah dan untuk memungkinkan posisi yang lebih baik untuk didengar, belajar, dan memperlihatkan kewajaran.
e.]Gunakan cara kompromi,  ketika sasarannya penting tetapi tidak sebanging dengan potensi gangguan terhadap pendekatan yang lebih asertif.

Saya sebagai rakyat Indonesia sangat mengharapkan sosok pemimpin seperti Ir. Soekarno kembali hadir untuk membangunkan Tanah Air kembali menjadi salah satu negara kesatuan yang dapat menonjolkan dirinya di ranah Internasional. Ir. Soekarno dapat dijadikan pedoman kita dalam hal kepemimpinannya baik gaya maupun sifat nya. Tentu saja harus disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan tempat kita menerapkannya.

DAFTAR PUSTAKA
[1.] PAPER KELOMPOK STUDI KEPEMIMPINAN, http://xa.yimg.com/kq/groups/22852964/1964185841/name/paper, 13 Juni 2009. Diakses Minggu, 13 April 2014 [12.03]

[2.] Marsha Putri Mandalika, TUGAS SKI, http://marsmandalika.blogspot.com/. Diakses Minggu 12 April 2014 [20.14]


[3.] AmanahSystem.com, MENGENAL KEPEMIMPINAN SOEKARNO PRESIDEN PERTAMA RI, http://www.amanahsystem.com/2013/04/mengenal-kepemimpinan-soekarno-presiden.html. Diakses 13 April 2014 [08.39]

[4.] Idviosa Frisca, ARTI PENTING KEPEMIMPINAN, http://idviosafrisca.blogspot.com/2013/04/arti-penting-kepemimpinan.html. Diakses, 14 April 2014 [18.40]

[5.] AH, Pohan. Be A Smart Leader: Rahasia di Balik Keputusan CEO dan Manajer Hebat. Penerbit Pustaka Grhatama, 2010: Yogyakarta.

[6.] Stephen P. Robbins, Timothy A. Judge. Perilaku Organisasi, Edisi 12. Penerbit Salemba Empat, 2008: Jakarta.

[7.] John M. Ivancevich, Robert Konopaske, Michael T. Matteson. ORGANIZATIONAL BEHAVIOR AND MANAGEMENT, SEVENTH EDITION. Penerbut Erlangga, 2006.

[8.] A.M. Mangunhardjana, SJ. Kepemimpinan. http://books.google.co.id/books?id=lOmZNTTmPi8C&pg=PA12&dq=kepemimpinan&hl=id&sa=X&ei=GnpKU8XVC4PyrQe4y4Eg&sqi=2&redir_esc=y#v=onepage&q=kepemimpinan&f=true. Diakses Minggu, 13 April 2014 [13.10]

[9.] Irawaty A. Kabar, Konsep Kepemimpinan dalam Perubahan Organisasi pada Perpustakaan Perguruan Tinggi. 2008. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16090/1/pus-jun2008-%20(4).pdf. Diakses Minggu,13 April 2014. 


READMORE
 

Teori Organisasi Umum 2 - Peran Komunikasi dalam Organisasi


Akhir-akhir ini, dunia penerbangan tengah dilanda masalah terkait dengan kecelakaan dan hilangnya pesawat terbang milik maskapai penerbangan Malaysia Airlines. Tertanggal 8 Maret 2014, pesawat Boeing 777-200 milik Malaysia Airlines ini dilaporkan menghilang dari radar saat terbang dari Kuala Lumpur menuju Beijing, dengan membawa 239 penumpang dan awak pesawat yang hingga sampai saat ini belum diketahui keberadaannya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan pesawat tersebut? Lalu apakah salah satu faktor penyebab kecelakaan berkaitan dengan masalah miskomunikasi?

Malaysia Airlines (http://indo-aviation.com)
Kejadian hilangnya pesawat ini mengingatkan kita pada tragedi kecelakaan pesawat terbesar di Indonesia 17 tahun silam, tepatnya pada tanggal 26 September 1997. Pesawat jenis Airbus A300-B4 milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia dengan rute penerbangan Jakarta-Medan mengalami crash accident di Sibolingit, Sumatera Utara. Sebanyak 222 orang dan 12 awak dalam pesawat tersebut meninggal dunia. Kecelakaan ini disebutkan berjenis CFIT (Controlled Flight Into Terrain; Penerbangan Terkendali Menuju Daratan). Kecelakaan ini terjadi dimana kondisi pesawat yang sedang dalam keadaan layak terbang dengan diisi kru terlatih tanpa sengaja jatuh ke tanah akibat tidak terjadi komunikasi yang akurat dan tepat antara sang pilot dengan dengan ATC atau pengontrol lalu lintas udara. Kesalahan dalam komunikasi yang dilakukan kru dari ATC yang keliru dalam memberikan informasi “belok kiri atau belok kanan” pada saat pesawat akan landing menyebabkan kesalahan besar yang menyebabkan ratusan korban nyawa meninggal dunia.[1]

Kesalahan dan kekeliruan dalam proses komunikasi mengakibatkan timbulnya konsekuensi-konsekuensi yang cukup besar pengaruhnya bagi efektivitas kelompok atau organisasi apa pun. Dari riset yang disebutkan dalam buku Perilaku Organisasi 2, komunikasi yang buruk sangat intens disebut sebagai sumber konflik antarpersonal. Karena individu-individu menghabiskan hampir 70% dari waktu mereka untuk berkomunikasi-menulis, membaca, berbicara, mendengar- adalah hal yang masuk akal untuk menyimpulkan bahwa kekuatan terbesar yang dapat membatasi dan menjadi rintangan bagi kinerja kelompok yang berhasil adalah komukasi yang efektif. [2]

PENGERTIAN DAN ARTI PENTING KOMUNIKASI

Sebenarnya apakah pengertian komunikasi itu sendiri? Apakah komunikasi merupakan salah satu elemen penting dalam kelancaran proses organisasi? Berikut ini adalah pengertian organisasi dari beberapa ahli:
1.  Everett M. Rogers, mengemukakan pendapatnya yaitu “Komunikasi adalah suatu proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerimaan atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.”
2.   Rogers & O. Lawrence Kincaid “Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lain yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam”.
3.   Theodore M. Newcomb,  “Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi,terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber kepada penerima”. [3]

Istilah komunikasi  atau dalam bahasa Inggris Communication berasal dari kata Latin Communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna. [4]

Jadi misalkan dua orang terlihat sedang melakukan percakapan dalam bentuk apapun, maka komunikasi akan terjadi atau terus berlangsung selama terdapat kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan. Berdasarkan ilustrasi diatas dapat ditunjukkan bahwa komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua orang yang saling berkomunikasi.

Organisasi merupakan suatu kumpulan orang yang mempunyai tujuan yang sama. Anggota suatu organisasi bekerja bersama, saling mendukung satu dengan yang lain, sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Olah karenanya komunikasi merupakan salah unsur penting dalam organisasi, dengan mana pesan disampaikan dari pengurus ke anggota dan sebaliknya. Anggota dilibatkan dalam pencapaian tujuan organisasi, sehingga ide-ide dari anggota merupakan masukan yang sangat berguna bagi kelangsungan hidup organisasi.

Dalam suatu organisasi sangat dibutuhkan adanya komunikasi organisasi yang mampu mengembangkan sikap anggota untuk merubah pola pikir dan pola perilakunya sehingga sejalan dengan apa yang menjadi tujuan dari organisasi tersebut. Redding dan Sanborn dalam Arni Muhammad (2005;65) mengatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. Sedangkan Zelko dan Dance (Arni Muhammad, 2005; 66) mengatakan bahwakomunikasi organisasi adalah suatu sistem yang saling bergantung yang mencakup komunikasi internal dan komunikasi eksternal. Catrin Johansson menyatakan a wide definition of organizational communication is used, including internal, external, informal and formal communication with processes ranging from intraindividual to mass mediated communication (2007,93). [5].


PROSES DAN JENIS ORGANISASI
Kesuksesan organisasi sangat dipengaruhi oleh kapabilitas dan kompetensi masing-masing individual dan kerjasama antar anggota tim dalam organisasi. Dalam menjalin kerjasama untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya komunikasi. Ditinjau berdasarkan teknis pelaksanaannya, komunikai dapat dirumuskan sebagai kegiatan dimana seseorang menyampaikan pesan melalui media tertentu kepada orang lain dan sesudah menerima pesan serta memahami sejauh mana kemampuannya, penerima pesan menyampaikan tanggapan melalui media tertentu kepada orang yang menyampaikan pesan tersebut kepadanya.

Argiris (1994) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses dimana seseorang, kelompok, atau organisasi (sender) mengirimkan informasi (massage) pada orang lain, kelompok, atau organisasi (receiver). Proses komunikasi umumnya mengikuti beberapa tahapan. Pengirim pesan mengirimkan informasi pada penerima informasi melalui satu atau beberapa sarana komunikasi. Proses berlanjut dimana penerima mengirimkan feedback atau umpan balik pada pengirim pesan awal. Dalam proses tersebut terdapat distorsi-distorsi yang mengganggu aliran informasi yang dikenal dengan noise. [6] 

KOMUNIKASI EFEKTIF 
Kemampuan komunikasi merupakan faktor penentu kesuksesan setiap individu maupun organisasi untuk bertahan dalam persaingan bisnis yang sangat kompetitif saat ini. Kemampuan komunikasi seseorang dalam organisasi diperlukan dalam setiap kondisi misalnya pada saat mempersiapkan sebuah presentasi bisnis, menyampaikan ide-ide atau gagasan dalam suatu rapat, negosiasi bisnis, melatih tim, membangun sebuah tim kerja, dan dalam setiap aktivitas organisasi. Melihat pentingnya komunikasi dalam organisasi, efektivitas komunikasi akan sangat menentukan kesuksesan organisasi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang (Griffith, 2002).

Berdasarkan pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa syarat utama komunikasi yang efektif adalah karakter dan integritas pribadi yang menyampaikan pesan tersebut. Menurut Covey, untuk membangun komunikasi yang efektif diperlukan lima dasar penting yaitu usaha untuk benar-benar mengerti orang lain, kemampuan untuk memenuhi komitmen, kemampuan untuk menjelaskan harapan, kemauan untuk meminta maaf secara tulus jika melakukan kesaahan, dan kemampuan memperlihatkan integritas. 

Untuk menciptakan komunikasi yang efektif, seorang komunikator harus mampu mengidentifikasi sasaran yang menjadi penerima pesan, menentukan tujuan komunikasi, merancang pesan, memilih media, memilih sumber pesan, dan mengumpulkan umpan balik. Dalam mengidentifikasi sasaran atau penerima pesan perlu diperhatikan beberapa hal diantaranya adalah (Xie et al.,2008). Menentukan, mengenali dan mempelajari siapa yang akan dijadikan sasaran, dalam hal ini siapa target/segmen konsumennya. Siapa sasaran yang dijadikan target adalah calon konsumen potensial, pengguna produk/jasa, orang-orang yang membuat keputusan membeli, dan orang yang mempengaruhi pembelian, apakah individu perorangan, kelompok, publik khusus atau publik umum.

Dalam menentukan tujuan komunikasi beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:
1). Komunikator menentukan tanggapan dan efek yang diharapkan dari komunikasi yang disampaikan,
2). Komunikator harus mengetahui dan memahami apakah khalayaknya/konsumen ada dalam tahap pembelian atau tidak. Tahap pembelian mulai dari awareness (kesadaran), pengetahuan, kesukaan, preferensi, keyakinan dan pembelian, dan,
3). Komunikator harus bisa menggerakkan konsumen ke tahap pembelian. Untuk merancang pesan, komunikator mengembangkan pesan komunikasi yang efektif, yang idealnya pesan harus melalui tahap AIDDA ( Attention, Interest, Desire, Decission, Action).

Selain itu, komunikator harus bisa memutuskan isi pesan, format pesan dan struktur pesan sehingga pesan yang disampaikan memiliki daya tarik maksimal, baik daya tarik rasional, emosional dan moral. [6]


IMPLIKASI MANAJERIAL
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kata Implikasi berarti akibat. Kata Implikasi sendiri dapat merujuk ke beberapa aspek yaitu salah satunya yang dibahas saat ini adalah manajerial atau manajemen
 

Dalam manajemen terdapat 2 implikasi yaitu :
1.   Implikasi prosedural meliputi tata cara analisis, pilihan representasi, perencanaan kerja dan formulasi kebijakan
2. Implikasi kebijakan meliputi sifat substantif, perkiraan ke depan dan perumusan tindakan. [7]   

  DAFTAR PUSTAKA 
[1]. Naufal Enaldi. Garuda Indonesia GA 152 Transkrip Pembicaraan ATC dengan Pilot.
http://naufalelnadi.blogspot.com/2013/06/garuda-indonesia-ga-152-transkrip.html . Diakses pada hari Senin, 17 Maret 2014 pukul (15.30).
[2]. Stephen P. Robbins-Timothy A. Judge. Organizational Behavior, Perilaku Organisasi Edisi 12. Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2008.
[3]. Blogging Indonesia, Pengertian Komunikasi Menurut Para Ahli,
http://blogging.co.id/pengertian-komunikasi-menurut-para-ahli . Diakses pada hari Selasa, 18 Maret 2014 pukul (23.29).
[4]. Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya. 2006.
[5]. Mr. Azis R, TA GUTAMA(2010) PERAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI, Jurnal Sosiologi, 25(2) pp. 107-113. ISSN 0215 - 9635.
http://eprints.uns.ac.id/820/1/PERAN_KOMUNIKASI_DALAM_ORGANISASI.PDF. Diakses pada hari Senin, 17 Maret 2014 pukul (14.58)
[6]. Hasa Nurrohim. Efektivitas Komunikasi Dalam Organisasi. majour.maranatha.edu/index.php/jurn  al-manajemen/article/view/216/pdf . Diakses pada hari Senin, 17 Maret 2014 pukul (15.00)
[7]. Dunia Tugas Asri, Komunikasi Efektif dan Implikasi Manajerial. http://duniatugasasri.wordpress.com/2013/06/11/komunikasi-efektif-implikasi-manajerial/ . Diakses pada hari Selasa, 18 Maret 2014 pukul (1.10).

LAIN-LAIN
[1].http://indo-aviation.com/wp-content/uploads/2014/03/Malaysia_Airlines_Boeing_777-200ER_Wikimedia_7.jpg (23.11)
[2].http://www.manajemenperusahaan.com/wp-content/uploads/2013/06/proses-komunikasi.png (23.31) 
READMORE