, | DHANDY YUSUF SAHYADI | BLOG
Floating Right

Tugas #2 - Ragam Bahasa

Wilayah Indonesia merupakan kepulauan dengan ribuan pulau-pulau yang terpisahkan laut dan selat. Penduduknya terdiri atas berbagai suku bangsa yang memiliki bahasa daerahnya masing-masing, dengan latar belakang budaya dan agama yang beragam. Semua itu berdampak pada bahasa Indonesia, bahasa persatuan bangsa Indonesia yang masyarakatnya sangat mejemuk.


Seperti bahasa- bahasa lain, bahasa Indonesia mempunyai berbagai ragam bahasa. Menurut Ramelan (1982), ragam bahasa Indonesia dapat digolongkan menurut beberapa cara, yaitu menurut tempat daerahnya terdiri dari ragam bahasa dialek Jawa, Sunda, Betawi, dll. Menurut penuturnya dibedakan ragam bahasa golongan cendekiawan dan bukan cendekiawan. Menurut sarananya dikenal ragam bahasa lisan, sastra, surat kabar, dan ragam bahasa undang-undang.

R A G A M    B A H A S A

 

Bahasa : Simbol / lambang yang dihasilkan oleh alat ujaran / indera manusia untuk melakukan fungsi bahasa.

Sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, pada era saat ini muncul dua masalah pokok, yaitu terkait dengan masalah penggunaaan Bahasa Indonesia secara baku dan tidak baku. Generasi remaja hingga dewasa saat ini kurang memperhatikan tata cara penggunaan bahasa mereka sehari-harinya, dan terkadang tidak jarang bahasa sehari-hari mereka secara langsung berdampak pada penggunaan bahasa pada situasi tertentu. Pemakaian bahasa baku berkaitan dengan situasi resmi dan tidak resmi. Situasi resmi digunakan pada saat kita berada di sekolah (berhadapan dengan guru atau orang yang lebih tua) dan di kantor, atau di pertemuan-pertemuan resmi. Sebaliknya, dalam situasi tidak resmi, seperti di rumah, di pasar, dll kita tidak selalu dituntut untuk menggunakan bahasa baku. Hal ini dikarenakan agar kita dapat beradaptasi dengan lingkungan dan orang sekitar kita dengan bahasa yang nyaman dan sesuai pemakaiannya dalam aktifitas kita. Penggunaan bahasa pada situasi resmi dan tidak resmi itulah yang akan dibahas supaya kita dapat membeda-bedakan pemakaian bahasa sesuai dengan tuntutan ragamnya. Dengan demikian kita dapat menyesuaikan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar pada situasi tertentu. Ada tiga kriteria penting yang perlu diperhatikan jika kita berbicara tentang ragam bahasa. Ketiga kriteria itu ialah: (1) Media yang digunakan, (2) Latar belakang penutur, dan (3) Pokok persoalan yang dibicarakan.


M A C A M - M A C A M   R A G A M    B A H A S A 

R  a  g  a  m     B  a  h  a  s  a     I  n  d  o  n  e  s  i  a     B  e  r  d  a  s  a  r  k  a  n     M  e  d  i  a 

Dalam ragam bahasa Indonesia berdasarkan media, yang perlu diperhatikan adalah norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang atau situasi pembicaraan, pelaku pembicaraan, dan topik pembicaraan (Fishman ed., 1968; Spradley, 1980). Ragam bahasa Indonesia berdasarkan media dibagi menjadi dua yaitu:

 A. R a g a m    B a h a s a    L i s a n 
Ragam bahasa lisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan. Ragam bahasa bahasa lisan didukung oleh situasi pemakaian, namun hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntunan penggunaan kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi sebaliknya, yaitu situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap saja disebut ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak  menunjukan cir-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dengan tulisan,  ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu masing-masing adapun ciri dari keduanya:
Ciri-ciri ragam lisan:
1. Memerlukan orang kedua/teman bicara;
2. Tergantung kondisi, ruang, dan waktu;
3.  Hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh;
4. Berlangsung cepat
5. Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu;
6. Kesalaahan dapat langsung dikoreksi; dan
7. Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi
Yang termasuk dalam ragam lisan yaitu: (1) Pidato, (2) Ceramah, (3) Sambutan, (4) Berbincang-bincang, dll.  Contoh yang termasuk ragam lisan yaitu: “Sudah saya baca buku itu”. Semua itu sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat kita berkumpul dan berbicara dengan teman atau orang lain, karena tidak diikat oleh aturan-aturan atau cara penyampaian seperti halnya pidato ataupun ceramah.

 A. R a g a m    B a h a s a    T u l i s
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) dan juga dituntuk dengan adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun sususan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.
Ciri-ciri ragam tulis:
1. Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara;
2. Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu;
3. Harus memperhatikan unsur gramatikal;
4. Berlangsung lambat;
5. Selalu memakai alat bantu;
6.Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi;
7.Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca.
Yang termasuk dalam ragam bahasa tulis adalah: (1) Surat, (2) Karya Ilmiah, (3) Surat kabar, dll. Contoh kalimat yang termasuk dalam ragam tulis adalah: Contohnya: “Saya sudah membaca buku ini”. Dalam ragam bahasa tulis perlu memperhatikan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terutama dalam pembuatan karya-karya ilmiah.

 C. P e r b e d a a n    a n t a r a    R a g a m   L i s a n   d a n   T u l i s a n 
A. Tata Bahasa :
a.       Ragam Bahasa Lisan 
          1)      Nia sedang baca surat kabar.
          2)      Ari mau nulis surat.
          3)      Tapi kau tak boleh menolak lamaran itu.
b.      Ragam Bahasa Tulisan.
         1)         Nia sedang membaca surat kabar.
         2)         Ari mau menulis surat.
         3)         Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.
B. Kosa Kata :
a.       Ragam Bahasa Lisan
          1)    Ariani bilang kalau kita harus belajar.
          2)    Kita harus bikin karya tulis.
          3)    Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak.
b.      Ragam Bahasa Tulisan
         1)    Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar.
         2)    Kita harus membuat karya tulis.
         3)    Rasanya masih telalu muda bagi saya, Pak.

R a g a m    B a h a s a    I n d o n e s i a    d a r i    C a r a    P a n d a n g    P e n u t u r

Berdasarkan cara pandang penutur, ragam bahasa indonesia terdiri dari ragam dialek, ragam terpelajar, ragam resmi dan ragam tak resmi.

Contoh:
Ragam Dialek          : “Gue udah baca itu buku ”
Ragam Terpelajar    : “Saya sudah membaca buku itu”
Ragam Resmi          :  “Saya sudah membaca buku itu”
Ragam Tak Resmi    : “Saya sudah baca buku itu”
R a g a m    B a h a s a    I n d o n e s i a    M e n u r u t     T o p i k    P e m b i c a r a a n 
Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra.

Contoh:
Ragam Hukum       : Dia dihukum karena melakukan tindak pidana.
Ragam Bisnis           : Setiap pembelian diatas nilai tertentu akan diberikan diskon.
Ragam Sastra           : Cerita itu menggunakan Flashback.
Ragam Kedokteran : Anak itu menderita penyakit kuorsior.


PERBEDAAN RAGAM/KARANGAN ILMIAH,NON ILMIAH,DAN  SEMI-ILMIAH
 
R a g a m    I l m i a h 
Bisa juga diartikan sebagai sarana verbal yang efektif, efesien, baik, dan benar. Ragam ini lazim digunakan untuk mengomunikasikan proses kegiatan dan hasil penalaran ilmiah, misalnya dalam penulisan proposal kegiatan ilmiah, proposal penelitian.

Ciri-ciri dari bahasa Indonesia ragam bahasa ilmiah, antara lain :
  • Bahasa Indonesia ragam baku;
  • Penggunaan kalimat efektif;
  • Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ganda;
  • Penggunaan kata dan istilah yang bermakna lugas dan menghindari pemakaian kata dan istilah yang bermakna kias;
  • Menghindari penonjolan persona dengan tujuan menjaga objektivitas isi tulisan;
  • Adanya keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan antaralinea.
R a g a m    S e m i    I l m i a h 
Pada penulisan ini sudah dapat terlihat jelas, yaitu merupakan tehnik penulisan gabungan antara penulisan ilmiah dengan penulisan non ilmiah. Pada penulisan ini menyajikan fakta dan fiksi yang tidak semi formal. Walaupun begitu penulisannya tidak seperti penulisan ilmiah yang sistematis, sintesis maupun analistis.

Ciri-ciri ragam semi ilmiah atau ilmiah popular, yaitu :
  • Ditulis berdasarkan fakta pribadi;
  • Fakta yang disimpulkan subjektif;
  • Gaya bahasa formal dan popular;
  • Mementingkan diri penulis;
  • Melebih-lebihkan sesuatu;
  • Usulan-usulan bersifat argumentative; dan Bersifat persuasive.
Jenis karangan semi ilmiah yaitu artikel, editorial, opini, tips, reportase, dan resensi buku. Resensi buku adalah bentuk konbinasi antara uraian, ringkasan, dan kritik objektif terhadap sebuah buku.

R a g a m    N o n    I l m i a h 
Merupakan suatu karya tulis yang berbeda dari penulisan ilmiah. Dalam penulisan ilmiah dapat berupa fiksi yaitu rekaan atau karangan cerita yang di buat oleh seseorang dan di dapat dari sudut pandang pengarang itu sendiri. Dalam penulisan non ilmiah ini terdiri dari berbagai unsur yaitu penokohan, konflik, setting, dll. Walaupun begitu penulisan ini tidak boleh sembarangan dalam membuat tulisan dan harus sesuai dengan etika penulisan yang telah ada.

Dan didalam penulisan non ilmiah ini sudah dapat terlihat jelas bedanya dengan penulisan ilmiah. Yaitu terlihat dari bagaimana proses penulisan non ilmiah yang tidak teratur dan terkontrol seperti penulisan ilmiah.

Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah, yaitu:
  • Ditulis berdasarkan fakta pribadi,
  • Fakta yang disimpulkan subyektif,
  • Gaya bahasa konotatif dan populer,
  • Tidak memuat hipotesis,
  • Penyajian dibarengi dengan sejarah,
  • Bersifat imajinatif,
  • Situasi didramatisir,
  • Bersifat persuasif.
  • Tanpa dukungan bukti.




D A F T A R    P U S T A K A:
[1.] Dr. Dendy Sugono, Mahir Berbahasa Indonesia Dengan Benar, PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
[2.] Rika Putriana dkk, Ragam Bahasa Indonesia, Makalah. http://www.slideshare.net/tyyadelatorres/bi-makalah-ragam-bahasa-indonesia. Diakses: Sabtu, 4 Oktober 2014.
[3.] Wahyu Diyono, Contoh Makalah Bahasa Indonesia Ragam Bahasa, http://wede56.blogspot.com/2014/03/contoh-makalah-bahasa-indonesia-ragam.html. Diakses: Sabtu, 4 Oktober 2014.
[4.] Yogi Pragoya, Artikel Dengan Ragam Bahasa Ilmiah, Semi Ilmiah & Non Ilmiah, http://akunyogi.wordpress.com/2013/10/22/artikel-dengan-ragam-bahasa-ilmiah-semi-ilmiah-non-ilmiah/. Diakses: Sabtu, 4 Oktober 2014.
[5.] Siti Amalia, Perbedaan Penulisan Ilmiah, Semi Ilmiah, Non Ilmiah, http://stamalia.wordpress.com/2013/12/01/perbedaan-penulisan-ilmiah-semia-ilmiah-non-ilmiah/. Diakses : Sabtu, 4 Oktober 2014.
[6.] Haryanto A.G, dkk. Metode Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah: Buku ajar untuk Mahasiswa. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta 
READMORE
 

Tugas #1 - Fungsi Bahasa Secara Umum, Peristiwa yang Berkaitan dengan Bahasa Indonesia, dan Tanggapan Mengenai Bahasa Indonesia Nantinya


    Pada saat anda lahir, apakah yang paling anda rasakan perkembangannya sampai saat ini? Apakah ada sesuatu tidak pernah anda berhenti pelajari mulai dari kecil hingga saat ini anda dewasa? Secara fisik, mungkin yang anda rasakan perkembangannya adalah tubuh anda yakni berubah semakin besar. Sedangkan yang anda pelajari dimana tidak pernah berhenti sejak anda kecil hingga dewasa ini adalah BAHASA. Ingatkah anda siapa yang mengajari kalian-kalian berbicara dengan menggunakan BAHASA? Ya... Ibu lah yang membantu kalian mempelajari bahasa sebagai alat berkomunikasi dengan orang lain.

F U N G S I    B A H A S A
P  e  n  g  e  r  t  i  a  n      B  a  h  a  s  a

Bahasa : Simbol atau lambang yang dihasilkan oleh alat indera manusia untuk melakukan fungsi-fungsi bahasa.

     Bahasa mempunyai kedudukan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia telah menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi sejak berabad abad silam. Bahasa mempunyai arti alat untuk berinteraksi, atau menyampaikan pikiran kita, gagasan, konsep, dan juga perasaan kita. Dengan kata lain, bahasa mempunyai fungsi sebagai alat komunikasi manusia, baik lisan maupun tertulis (Chaer dan Agustina, 1995: 19).


    Kita sebagai warga negara Indonesia tentunya sudah mengetahui bahwa Indonesia sendiri memiliki bahasa resmi yaitu, Bahasa Indonesia. Ya bahasa yang kalian gunakan sehari hari dan digunakan hampir di seluruh penjuru wilayah Indonesia. Kita tahu Indonesia mempunyai beraneka ragam kebudayaan dan bahasa daerah yang sangat berbeda dari satu wilayah dengan wilayah lainnya. Walaupun tiap wilayah dengan wilayah lainnya terdapat perbedaan dalam bahasa daerah, namun perbedaan ini dipersatukan oleh satu bahasa kandung, bahasa nasional, dan bahasa bu pertiwi kita, Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional Negara Indonesia yang merupakan bahasa pemersatu bangsa.

F  U  N  G  S  I      B  A  H  A  S  A

Dalam literature bahasa, fungsi bahasa secara umum ada empat, yaitu :
I. Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri 
     Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikankehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya. Dalam perkembangannya, seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi denganlingkungan di sekitarnya.

Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi, kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu.

II. Bahasa sebagai Alat Komunikasi
Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasitidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain.Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapaioleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengankita. Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain.

Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin oranglain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar ataukhalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa denganmemperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita.

III.Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial
Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pulamanusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-oranglain. Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial.

Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungansosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasidan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orangyang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati.

IV.Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapatditerapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan,informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrolsosial.Selain fungsi bahasa secara umum, bagi bangsa Indonesia ada dua fungsi bahasa secara khusus, yaitu:

1. Sebagai Bahasa Nasional Dalam bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai: 
1). Lambang kebanggaan nasional.
2). Lambang identitas nasional.
3). Alat pemersatu masyakat yang berbeda latar belakang dan sosial budaya.
4). Alat perhubungan antarbudaya dan antardaerah.

2. Sebagai Bahasa Negara Dalam kedudukannya sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
1). Bahasa resmi kenegaraan.
2). Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan.
3). Bahasa resmi dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan.
4). Bahasa resmi dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta tekonologi.

P E R I S T I W A - P E R I S T I W A    P E N T I N G   DALAM   P E R K E M B A N G A N    B A H A S A    I N D O N E S I A

Lahirnya bahasa Indonesia mengalami perjalanan cukup panjang. Bermula dari digunakannya bahasa Melayu. Dimana bahasa ini digunakan sebagai bahasa pergaulan (lingua franca) sejak berabad abad yang lampau.

Bahasa Melayu atau bahasa Indonesia Lama adalah bahasa asli di sekitar Malaka. Sejarah adalah pembuktian zaman keemasan kerajaan Sriwijaya di Palembang pada abad ke-7, dapat kota jumpai pada prasasti-prasasti bertuliskan bahasa Melayu Kuno dengan huruf Pallawa. Prasasti-prasasti itu antara lain:

  • Prasasti Kedukan Bukit (Palembang) tahun 683 Masehi;
  • Prasasti Talang Tuo (Palembang) tahun 684 Masehi;
  • Prasasti Kota Kapur (Bangka) tahun 686 Masehi;
  • Prasasti Karang Brahi (Jambi) tahun 688 Masehi;
  • Prasasti Gandasuli (Magelang) tahun 832 Masehi;
  • Prasasti Bogor (Bogor) tahun 942 Masehi.

Adapun peristiwa-peristiwa penting dalam perkembangan bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:



1. Pada 28 Oktober 1928 diadakan Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda yang salah satu ikranya berbunyi "Kami putra dan putri Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia." Sejak saat itu bahasa Melayu yang demokratis atau tidak mengenal tingkatan-tingkatan menjadi bahasa Indonesia. Dalam perkembangannya kemudian diperkaya oleh bahasa-bahasa daerah di Nusantara.

2. Pada 25-28 Juni 1938 diadakan Kongres Bahasa Indonesia pertama di Solo. Kongres ini menghasilkan kamus-kamus istilah dan rekomendasi agar bahasa Indonesia dipakai dalam segala badan perwakilan sebagai bahasa pengantar.

3. Pada masa pendudukan Jepang, bahasa Indonesia menjadi bahasa utama menggantikan bahasa Belanda dalam percakapan sehari-hari.

4. Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 menempatkan bahasa Indonesia menjadi bahasa negara tercantum dalam UUD 1945, Bab XB, pasal 36 yang sekaligus menjadi bahasa persatuan, bahasa resmi, dan bahasa pengantar di sekolah-sekolah.

5. Kongres Bahasa Indonesia kedua diadakan pada 1954 di Medan. Kongres tersebut membahas perkembangan dan pembinaan bahasa selanjutnya.

6. Pada 28 Oktober 1966 diadakan simposium Bahasa dan Kesustraaan di Jakarta oleh Lembaga Bahasa dan Kesustraan.

7. Pada 31 Agustus 1975 diresmikan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan dan "Pedoman Umum Pembentukan Istilah" berdasarkan KeputusanMenteri P&K Republik Indonesia No. 0196/U/1975.

8. Pada 28 Oktober - 3 November 1978 diadakan Kongres Bahasa Indonesia ketiga di Jakarta yang salah satu keputusannya adalah penegasan kembali mengenai kebijaksanaan yang harus diambil dalam proses pengembangan bahasa Indonesia sebagai bagian dari pengembangan kebudayaan Indonesia.


M E N Y I K A P I    P E R K E M B A N G A N    B A H A S A    I N D O N E S I A

Bahasa bersifat dinamis dan terus berkembang. Penggunaan bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi, namun juga telah menjadi identitas suatu bangsa. Fungsi bahasa juga telah berkembang, dari mulanya sebagai alat komunikasi, hingga kinimenjadi alat kontrol sosial yang cukup ampuh. Perkembangan Bahasa Indonesia yangmasih mencari bentuk menuju pembakuan yang mantap, berlangsung sangat cepat.Orang-orang yang mengamati perkembangan bahasa Indonesia akan melihat betapa wajah bahasa Indonesia sudah banyak berubah.

Namun seiring perkembangan zaman, telah banyak terjadi pergeseran nilai bahasa dari hakikat yang seharusnya. Untuk itu diperlukan suatu upaya untuk mengingatkankembali bagaimana hakikat dan fungsi bahasa itu dan juga berbagai keragamandidalamnya. Mahasiswa sebagai calon intelektual perlu terus mengikuti perkembangan bahasa Indonesia dengan cara mempelajarinya agar karya tulisnantinya tidak ketinggalan dari segi bahasanya.


D a f t a r    P u s t a k a :
1. Ismail Kusmayadi, Think Smart Bahasa Indonesia untuk Kelas X SMA/MA; Fathrah Hasanah (ed.) -Ed.1 -Cet.1 -Bandung: Grafindo Media Pratama, 2008.

2. Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia VI; Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia. Balai Pustaka.

3. Mesha Ferzica, Ragam Bahasa, http://www.academia.edu/4849250/Ragam_bahasa. Diakses Sabtu, 13.20 WIB
READMORE
 

Teori Organisasasi Umum 2 - Bekerja Sama Dalam Team (Kelompok) dan Teamwork

Kerjasama merupakan salah satu fitrah manusia sebagai mahluk sosial. Kerjasama memiliki dimensi yang sangat luas dalam kehidupan manusia, baik terkait tujuan positif maupun negatif. Dalam hal apa, bagaimana, kapan dan di mana seseorang harus bekerjasama dengan orang lain tergantung pada kompleksitas dan tingkat kemajuan peradaban orang tersebut. Semakin modern seseorang, maka ia akan semakin banyak bekerjasama dengan orang lain, bahkan seakan tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu tentunya dengan bantuan perangkat teknologi yang modern pula.

Bentuk kerjasama dapat dijumpai pada semua kelompok orang dan usia. Sejak masa kanak-kanak, kebiasaan bekerjasama sudah diajarkan di dalam kehidupan keluarga. Setelah dewasa, kerjasama akan semakin berkembang dengan banyak orang untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Pada taraf ini, kerjasama tidak hanya didasarkan hubungan kekeluargaan, tetapi semakin kompleks. Dasar utama dalam kerja sama ini adalah keahlian, di mana masing-masing orang yang memiliki keahlian berbeda, bekerja bersama menjadi satu kelompok/tim dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan. Kerjasama tersebut adakalanya harus dilakukan dengan orang yang sama sekali belum dikenal, dan begitu berjumpa langsung harus bekerja bersama dalam sebuah kolempok. Oleh karena itu, selain keahlian juga dibutuhkan kemampuan penyesuaian diri dalam setiap lingkungan atau bersama segala mitra yang dijumpai.



PENGERTIAN KELOMPOK DAN KARAKTERISTIK KELOMPOK

  • Kelompok adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang berinteraksi dan mereka saling bergantung (interdependent) dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tujuan bersama, meyebabkan satu sama lain saling mempengaruhi (Cartwright&Zander, 1968; Lewin, 1948).

Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok.
  • Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy Mulyana, 2005). 

Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.

Karakteristik Kelompok
1. Terdiri dari dua orang atau lebih dalam interaksi sosial baik   secara verbal maupun non verbal.
2. Anggota kelompok harus mempunyai pengaruh satu sama lain supaya dapat diakui menjadi anggota suatu kelompok
3. Mempunyai struktur hubungan yang stabil sehingga dapat menjaga anggota kelompok secara bersama dan berfungsi sebagai suatu unit.
4. Anggota kelompok adalah orang yang mempunyai tujuan atau minat yang sama.
5. Individu yang tergabung dalam kelompok, saling mengenal satu     sama lain serta dapat membedakan orang-orang yang bukan anggota kelompoknya.

TAHAP TAHAP PEMBENTUKAN KELOMPOK
Model pembentukan suatu kelompok pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman (1965). Teori ini dikenal sebagai salah satu teori pembentukan kelompok yang terbaik dan menghasilkan banyak ide-ide lain setelah kosep ini dicetuskan.


Tahap 1 - Forming
Pada tahap ini kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum saling mengenal dan belum saling percaya.

Tahap 2 - Storming
Kelompok mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas-tugas yang mereka hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah yang harus mereka selesaikan. Anggota kelompok saling terbuka dan mengkonfrontasi ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Pada beberapa kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula yang mandenk pada tahap ini.

Tahap 3 - Norming
Terdapat kesepakatan dan konsensus antara anggota kelompok. Peranan dan tanggung jawab telah jelas. Anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat kontribusi masing-masing anggota untuk kelompok.

Tahap 4 - Performing
Kelompok dalam tahap ini dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling bergantung satu sama lainnya dan mereka saling respect dalam berkomunikasi.

 Tahap 5 - Adjourning dan Transforming
Tahap dimana proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada tahap mana pun ketika mereka mengalami perubahan.
KEKUATAN TEAMWORK


Sebuah perusahaan yang akan bisa bergerak maju dengan luar biasa juga memerlukan teamwork yang baik antara bagian dan divisi dalam perusahaannya tersebut. Kalau antar divisi masing – masing bekerja sendiri – sendiri tanpa adanya kerja sama, maka visi perusahaan akan lebih lambat tercapainya. Tetapi jika seluruh divisi bahu – membahu serta saling support satu sama lain, maka perusahaan ini akan bergerak maju dengan lebih cepat.

Di tengah era globalisasi, spesialisasi sangat diperlukan. 
Apa yang dilakukan seorang CEO – Chief Executive Officer untuk membangun tim kerjanya yang solid dan terintegrasi ? Pemimpin yang handal akan membentuk struktur organisasi dengan menempatkan orang yang tepat pada bidangnya dan mampu bekerja sama dengan baik.
1.Spesifik. 
Analogi yang paling tepat adalah jari-jari tangan kita. Bayangkan apa yang terjadi jika kita memiliki jari yang semuanya terdiri atas jempol atau kelingking. Namun jari kita diciptakan sesuai dengan fungsi dan keunikan masing-masing. Keragaman memperkuat fungsi, memperkaya khazanah dan kompetensi dari tim kerja kita.
2.Delegasi.
 
Delegasi berbicara mengenai pemahaman fungsi dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Tim kerja yang tidak jelas job desc nya tidak mungkin dapat bekerja sama dengan baik. Delegasi diawali dengan penempatan yang tepat sesuai kapasitas dan kompetensi masing-masing anggota tim kerja. 
3.Kerjasama. 
Si buta dan si lumpuh saling bertetangga, namun saling bermusuhan. Tanpa henti mereka saling mengolok-olok kekurangan masing-masing. Suatu saat desa mereka di landa banjir. Semua penduduk mengungsi ke bukit. Tinggallah mereka berdua. Akhirnya mereka menyadari kesalahan masing-masing dan mau saling menerima. Si buta membopong si lumpuh. Dengan petunjuk si lumpuh, si buta bergegas berjalan naik ke bukit. Setiap manusia punya kelebihan tapi juga kekurangan. Jika belajar untuk saling menerima, sesama manusia akan mudah membangun sinergi dalam tim kerja. 

IMPLIKASI MANAJERIAL

Membangun Tim Dapat Dibandingkan dengan Permainan Sepak Bola (?)a. Seorang manajer yang terampil bertanggung jawab atas pemilihan pemain, mengkoordinasikan upaya tim, serta mengawasi jalannya permainan.
b. Pemain harus memahami tugasnya, mempunyai keterampilan untuk mengerjakannya dengan baik, dan memiliki komitmen untuk berkontribusi pada tim.
c. Rencana permainan diperlukan untuk memenangkan pertandingan.
d. Pemain dan manager harus saling berkomunikasi, percaya, dan mendukung satu sama lain, serta menyelesaikan perbadaan-perbedaan yang timbul dengan cara konstruktif.
e. Pengendalian diri harus dijalankan oleh setiap pemain. Jika tidak ada harus dipaksakan oleh manajer.
f. Harus ada sistem penghargaan yang memenuhi kebutuhan tim maupun pemain sebagai individu.
Mulailah sendiri (Self-Starter)
Jika anda menunggu seseorang dari tingkat manajerial yang lebih tinggi untuk memerintahkan anda membangun tim, anda akan membatasi keberhasilan unit atau diri sendiri. Seorang manajer proaktif yang mampu berpikir tidak akan menunggu arahan dari atas. Sebaliknya, ia akan segera memulai usaha bersama untuk mengembangkan keterampilan mnaajerial yang kokoh. 
DAFTAR PUSTAKA
[1]. Stephen P.Robbins. Timothy A.Judge, Perilaku Organisasi, Edisi 12, Buku 2, Penerbit Salemba Empat, Jakarta:2008.
[2]. Robert B. Maddux. Team Building: Kiat Membangun Tim Handal, Capailah Hasil Menakjubkan Melalui Tim Solid Edisi Kedua, Team Esensi, Jakarta.
[3]. Elaine B. Johnson, Ph.D. CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING: Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, Penerjemah Ibnu Setiawan, Penerbit Mizan Learning Center (MLC), Bandung: 2007.
[4].  Yamin Latief Djokra, S.HI, M.Pd. Cara Menumbuhkan Kerjasama di Madrasah.
[5]. Niko Tri Leksono. Bekerjasama dalam Team. http://nikotrileksono.tumblr.com/post/47000431365/bekerjasama-dalam-team-kelompok . Diakses: Senin, 30 Juni 2014 Pukul 20.57
[6]. Sonia Regina. Bekerjasama dalam Team (Kelompok).http://myblogsoniaregina.blogspot.com/2013/04/bekerja-sama-dalam-team-kelompok.html . Diakses: Senin, 30 Juni 2014 Pukul 21.15


READMORE
 

Teori Organisasi Umum 2 - Pengambilan Keputusan dalam Organisasi



 Seorang pemuka agama mengunjungi seseorang yang dirawat dirumah sakit. Sesudah berbicara beberapa menit, lalu dia menerangkan bahwa dokter-dokter telah memberitahukannya bahwa si pasien hanya akan hidup antara setengah sampai satu tahun lagi. Selama waktu itu si pasien harus tinggal di rumah sakit. Makin lama makin hebat penderitaan dan perasaan sakitnya. Pasien ini mempunyai uang tabungan untuk istri dan empat orang anaknya. Kalau ia harus tinggal di rumah sakit, tentu uang itu akan habis, bahkan ia kemungkinan akan mempunyai hutang yang besar. Akhirnya ia berkata: "Jika saya tidak meminum obat saya, saya segera akan meninggak dalam waktu satu minggu. Obat yang harus saya minum adalah obat baru. Orang yang sakit seperti saya akan meninggal dengan cepat. Tetapi saya dan keluarga saya harus lama menderita. Kalau saya tidak minum obat tersebut, apakah saya berarti membunuh diri?". Bagaimana pemuka agama itu harus menjawab? Apa yang harus dilakukan pasien itu?

Dalam contoh diatas, dijelaskan bahwa keputusan yang harus diambil pasien diatas menyangkut pertimbangan tentang apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik dan apa yang buruk. Setiap tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari, sesungguhnya didasari oleh keputusan yang diambilnya. Apabila keputusan-keputusan yang diambil merupakan keputusan yang rutin diambil, maka setiap tindakan seolah-olah dilakukan begitu saja secara alami tanpa perlu pertimbangan. Padahal itu tidaklah benar sepenuhnya. Di luar itu, sering kali seseorang dihadapkan pada permasalah yang perlu dipertimbangkan matang-matang sebelum mengambil keputusan. Terutama karena kita mempunyai berbagai keterbatasan. Konsep dasar dalam pengambilan keputusan akan dijelaskan pada tulisan dibawah ini.

DEFINISI DAN DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan adalah salah satu tindakan pemilihan alternatif. Pengambilan keputusan sangat berkaitan dengan fungsi manajemen. Misalnya, saat seorang manajer merencanakan, mengelola, dan mengontrol, mereka membuat keputusan tertentu. Pelopor teori manajemen, Fayol dan Urwick, membahas pengambilan keputusan dimana mengenai pengaruhnya pada delegasi dan kewenangan, kemudian Bapak Manajemen - Frederick W Taylor hanya menyinggung metode ilmiah sebagai pendekatan untuk pengambilan keputusan. Pada teori organisasi modern, analisis awal untuk pengambilan keputusan dapat ditelusuri pada Chester Bernard. Dalam The Functions of the Exec, Bernard memberikan analisis mengenai pengambilan keputusan yang menyatakan 
"Proses keputusan ... merupakan teknik untuk mempersempit pilihan. " - Chester Bernard
Setiap proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan suatu solusi final. Dimana outputnya dapat berupa suatu action (aksi) atau dapat juga berupa suatu opinion terhadap solusi tersebut.

Beberapa ahli mnegemukakan Definisi Pengambilan Keputusan diantaranya:
  • A. Menurut George R. Terry, pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
  • B. Menurut Sondang P. Siagian, pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat.
  • C. Menurut James A. F. Stoner, pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.
Dari beberapa pendapat dan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa suatu pengambilan keputusan adalah suatu cara penerapan ilmu dan teknologi yang digunakan untuk memberikan suatu pendapat, opini, ataupun solusi yang dapat memberikan penyelesaian suatu masalah dengan menggunakan teknik pemecahan masalah tertentu dan ditujukan untuk dapat diterima semua pihak agar goal organisasi terealisasi.

Menurut George R.Terry dan Brinckloe disebutkan dasar-dasar pendekatan dari pengambilan keputusan yang dapat digunakan yaitu :
  • 1. Intuisi, Pengambilan keputusan yang didasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif sehingga mudah terkena pengaruh.
  • 2. Pengalaman, Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat diperhitungkan untung ruginya terhadap keputusan yang akan dihasilkan. Orang yang memiliki banyak pengalaman tentu akan lebih matang dalam membuat keputusan akan tetapi, peristiwa yang lampau tidak sama dengan peristiwa yang terjadi kini.
  • 3. Fakta, Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan-keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.
  • 4. Wewenang, Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya.
  • 5. Logika/Rasional, Pengambilan keputusan yang berdasarkan logika ialah suatu studi yang rasional terhadap semuan unsur pada setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pengambilan keputusan secara logika terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
  1. Kejelasan masalah.
  2. Orientasi Tujuan : Kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai.
  3. Pengetahuan Alternatif : Seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya.
  4. Preferensi Yang Jelas : Alternatif bisa diurutkan sesuai criteria.
  5. Hasil Maksimal : Pemilihan alternatif terbaik didasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal.
JENIS-JENIS KEPUTUSAN ORGANISASI
Dalam perusahaan besar, every single of decision which created by the management sangatlah krusial dan menentukan berhasil atau tidaknya suatu perusahaan mencapai tujuannya. Keputusan-keputusan dalam suatu organisasi terdapat beberapa jenis yang dalam saat tertentu dipakai dalam menentukan keputusan. Jenis keputusan dalam suatu orgaisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut. Keputusan harus dapat melibatkan seluruh elemen dalam organisasi. Baik elemen yang membuat keputusan itu bekerja dan elemen dimana keputusan tersebut diputusan. 

Secara garis besar jenis keputusan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan terbagi menjadi dua bagian yaitu :
  • A. Keputusan Rutin, Keputusan Rutin adalah Keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang serta biasanya telah dikembangkan untuk mengendalikannya.
  • B. Keputusan Tidak Rutin, Keputusan tidak Rutin adalah Keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.
Secara umum jenis pengambilan keputusan dapat dikategorikan dalam dua bentuk, yakni keputusan terprogram dan keputusan tidak terprogram (Siagian, 1987:25-26; Salusu, 1996:63).
  • A. Keputusan Terprogram, Keputusan terprogram adalah tindakan menjatuhkan pilihan yang berlangsung berulang kali dan diambil secara rutin dalam organisasi. Keputusan terprogram biasanya menyangkut pemecahan masalah-masalah yang sifatnya teknis serta tidak memerlukan pengarahan dari tingkat manajemen yang lebih tinggi.
  • B. Keputusan Tidak Terprogram, Keputusan tidak terprogram muncul sebagai akibat dari suatu situasi di mana ada suatu kemendesakan untuk segera mengambil tindakan dan memecahkan masalah yang timbul. Biasanya keputusan ini bersifat repetitif, tidak terstruktur dan sukar mengenali bentuk, hakekat dan dampaknya.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Menurut Terry (1989), faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut:
  • A. Hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan; 
  •  B. Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi;
  • C. Setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain; 
  • D. Jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan;
  • E. Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik; 
  • F. Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang  cukup lama; 
  • G. Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik; 
  • H. Setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul; dan 
  • I. Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya.
Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut mempengaruhi pengambilan keputusan.
  • A. Fisik, Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan. 
  • B. Emosional, Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective. 
  • C. Rasional, Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya. 
  • D. Praktikal, Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.
  • E. Interpersonal, Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual. 
  • F. Struktural, Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.

IMPLIKASI MANAJERIAL
Para manajer merupakan agen utama perubahan dalam sebagian besa organisasi. Dengan keputusan ang mereka buat dan perilaku mereka yang menjadi model peran, mereka membentuk kultur perubahan dalam organisasi. Sebagai contoh, keputusan manajemen yang terkait dengan desain struktur, faktor kultur, dan kebijakan sumber daya manusia banyak menentukan tingkat inovasi dalam organisasi. Serupa dengan hal ini, keputusan, kebijakan, dan praktik-praktik manajemen akan mentukan tingkat sampai mana organisasi belajar dan beradaptasi dengan faktor-faktor lingkungan yang senantiasa berubah.


"Setiap orang bisa marah- hal ini mudah dilakukan. Tetapi marah pada orang yang tepat, di waktu yang tepat, dengan intensitas yang benar, dan cara yang benar. Inilah yang paling sulit dilakukan." - Aristoteles

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Nachrowi Djalan Nachrowi, PhD. Hardius Uman, Msi, TEKNIK PENGAMBILAN KEPUTUSAN, Grasinda Gramedia Indonesia.
[2]. Malcom Brownlee, PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS DAN FAKTOR-FAKTOR DI DALAMNYA -- Cet. 12, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta: Gunung Mulia, 2006.
[3]. Stephen P.Robbins. Timothy A.Judge, Perilaku Organisasi, Edisi 12, Buku 2, Penerbit Salemba Empat, Jakarta:2008.
[4]. Kenneth C.Laudon. Jane P.Laudon, SISTEM INFORMASI MANAJEMEN, Edisi 10, Buku 2, Penerbit Salemba Empat, Jakarta:2008.
[5]. AH Pohan, Be A Smart Leader: Rahasia di Balik Keputusan CEO dan Manajer Hebat, Penerbit Pustaka Grhatama(Anggota Ikapi), Jogjakarta:2010.
[6]. Hasal Ismail, BAB 5 dan 6 DEFINISI dan DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN, http://hasanismail25.wordpress.com/2013/05/15/bab-5-dan-6-definisi-dan-dasar-pengambilan-keputusan/. Diakses pada Minggu, 11 Mei 2014, pukul 09.50 WIB.
[7]. Ahmad Kurnia, SPd,MM, PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PERILAKU ORGANISASI, http://teknikkepemimpinan.blogspot.com/2013/07/pengambilan-keputusan-dalam-perilaku.html. Diakses pada Minggu, 11 Mei 2014, pukul 08.45 WIB.
[8]. Lastiko Runtuwene, S.Ag, M.Pd,  Jurnal: KEPEMIMPINAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PARTISIPATIF DALAM ORGANISASI PENDIDIKAN-SEKOLAH. http://sulut.kemenag.go.id/file/file/Katolik/xcjq1363633187.pdf. Diakses pada Minggu, 11 Mei 2014, pukul 12.03 WIB.

READMORE
 

Teori Organisasi Umum 2 - Kepemimpinan

Sosok satu ini memang tidak pernah membosankan untuk diulas dan diperbincangkan. Sosok yang fenomenal di Tanah Air ini selalu terkenang di hati masyarakat Indonesia. Dialah Sukarno, manusia yang dilahirkan di bumi nusantara dengan berbagai talenta. Mulai dari sosok romantis, karismatik, sampai seorang tokoh revolusioner, semua dimilikinya. Tidak salah jika beberapa orang mengatakan Tuhan menciptakan Sukarno sebagai manusia yang hampir sempurna. - See more at: http://www.amanahsystem.com/2013/04/mengenal-kepemimpinan-soekarno-presiden.html#sthash.cy8FMEUn.dpuf
Sosok yang satu ini sosok yang sangat saya kagumi dan saya menjadikannya sebagai sosok panutan saya. Beliau adalah salah satu dari banyak orang yang menarik untuk diulas dan diperbincangkan untuk dijadikan bahan untuk pemahaman konsep leadership pada tulisan kali ini. Sosok yang fenomenal di dunia Internasional Tanah Air kita, Indonesia, ini selalu terkenang di hati masyarakat Indonesia. Dialah KOESNO SOSRODIHARDJO atau rakyat Indonesia mengenalnya dengan nama Ir. Sukarno.


[Ir. Soekarno]

Bung Karno, begitulah kita sering baca artikel-artikel tentang beliau, adalah Sang Proklamator, seorang pemimpin yang mempunyai kemampuan membangkitkan semangat nasionalisme Rakyat Indonesia. Gaya kepemimpinan beliau sangat berbeda dengan tokoh pemimpin lain, mempunyai tempramen meletup-letup, dan tetapi tidak meninggalkan seni keindahan. Ir. Soekarno adalah pemimpin yang kharismatik, memiliki semangat pantang menyerah dan rela berkorban demi persatuan dan kesatuan serta kemerdekaan Bangsanya.

Gaya kepemimpinan yangg diterapkan oleh Ir. Soekarno berorientasi pada moral dan etika ideologi yang mendasari negara atau partai, sehingga sangat konsisten dan sangat fanatik, cocok diterapkan pada era tersebut. Sifat kepemimpinan yg jg menonjol dan Ir. Soekarno adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif & inovatif serta kaya akan ide dan gagasan baru. Sehingga pada puncak kepemimpinannya, pernah menjadi panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta pergerakan melepas ketergantungan dari negara-negara barat (Amerika dan Eropa).

A. Arti Penting Kepemimpinan
SIAPAKAH PEMIMPIN ITU?
Dalam bahasa Inggris pemimpin disebut leader.  Menurut Robbert D Stuart (2002: 352) bahwa pemimpin adalah seorang yang diharapkan mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi, memberi petunjuk dan juga mampu menentukan individu untuk mencapai tujuan organisasi. Seiring dengan itu James P. Spillane (2006: 10) menyatakan bahwa pemimpin itu agen perubahan dengankegiatan mempengaruhi orang-orang lebih daripada pengaruh orang-orang tersebut kepadanya
   
KONSEP KEPEMIMPINAN 
Kepemimpinan merupakan salah satu unsur penentu keberhasilan organisasi, terlebih lagi dalam menuju perubahan. Untuk memahami apa yang dimaksud dengan kepemimpinan (leadership) ada baiknya terlebih dahulu mengetahui arti pemimpin (leader). Hal ini disebabkan kepemimpinan dilakukan oleh seorang pemimpin dan ia mengemban tugas dengan beraktivitas untuk melaksanakan kepemimpinan tersebut. 

Beragam definisi dan konsep kepemimpinan yang ditemukan dalam berbagai bahan pustaka, yang masing-masing berbeda dalam penekanan arti.
1. Richard L. Daf (2005: 5) mendefinisikan kepemimpinan (leadership) adalah suatu pengaruh yang berhubungan antara para pemimpin dan pengikut (followers). 
2. Kemudian Gibson menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya menggunakan pengaruh untuk memotivasi orang-orang guna pencapaian suatu tujuan. 
3. Menurut George Terry, kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang lain agar mau bekerja dengan suka rela untuk mencapai tujuan kelompok.
4. Menurut Cyriel O'Donnell, kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain  agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum. 
Kepemimpinan adalah suatu kegiatan mempengaruhi orang lain agar orang tersebut mau bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan juga sering dikenal sebagai kemampuan untuk memperoleh konsensus anggota organisasi untuk melakukan tugas manajemen agar tujuan organisasi tercapai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan terdiri atas :
  1.  Mempengaruhi orang lain agar mau melakukan sesuatu.
  2.  Memperoleh konsensus atau suatu pekerjaan.
  3.  Untuk mencapai tujuan manajer.
  4.  Untuk memperoleh manfaat bersama.

B. Tipologi Kepemimpinan
Tiap pemimpin mempunyai suatu karakteristik yang diterapkan dalam melakukan suatu proses kepemimpinan yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Karakteristik ini disebut dengan Gaya Kepemimpinan. Pada dasarnya gaya kepemimpinan mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Davis dan Newstrom (1995) mengeluarkan pendapat yang sesuai dengan pengertian gaya kepemimpinan diatas. Keduanya mengatakan bahwa pola tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang di persepsikan atau dipacu oleh bawahan tersebut dikenal sebagai gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin terkembang beberapa tipe kepemimpinan, pada dasarnya dapat diterangkan mealui tiga aliran berikut ini:

1. Tipe Otokratis
Ciri-cirinya antara lain:
a.       Mengandalkan kepada kekuatan/ kekuasaan.
b.      Menganggap dirinya paling berkuasa.
c.       Keras dalam mempertahankan prinsip.
d.      Jauh dari para bahawan.
e.       Perintah diberikan secara paksa.

2. Tipe Laissez Faire
Ciri-ciri antara lain:
a.       Memberi kebebasan kepada para bawahan.
b.      Pimpinan tidak terlibat dalam kegiatan.
c.       Semua pekerjaan dan tanggung jawab dilimpahkan kepada bawahan.
d.      Tidak mempunyai wibawa.
e.       Tidak ada koordinasi dan pengawan yang baik.

3. Tipe Paternalistik
Ciri-ciri antara lain:
a.       Pemimpin bertindak sebagai bapak.
b.      Memperlakuakn bawahan sebagai orang yang belum dewasa.
c.       Selalu memberikan perlindungan.
d.      Keputusan ada ditangan pemimpin.

4. Tipe Militerlistik
Ciri-ciri antara lain:
a.       Dalam komunikasi menggunakan saluran formal.
b.      Menggunakan sistem komando/ perintah.
c.       Segala sesuatu bersifat formal.
d.      Disiplin yang tinggi, kadang bersifat kaku.

5. Tipe Demokratis
Ciri-ciri antara lain:
a.       Berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi.
b.      Bersifat terbuka.
c.       Bawahan diberi kesempatan untuk memberi saran dan ide-ide baru.
d.      Dalam pengambilan keputusan utamakan musyawarah untuk mufakat.
e.       Menghargai potensi individu.

6. Tipe Open Leadership
Tipe ini hampir sama dengan tipe demokratis, Perbedaannya terletak dalam hal pengambilan keputusan, dalam tipe ini keputusan ada ditangan pemimpin.

Pemimpin yang paling ideal dan menyeluruh, adalah yang pemimpin yang memegang prinsip seorang pemimpin yang demokratis. Namun untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepemimpinan
Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah pengetahuan dan keterampilan, karakteristik pribadi, nilai-nilai yang diyakini, penyimpangan, dan gaya dalam membuat keputusan. Variabel organisasi mencakup iklim dan budaya, politik organisasi, ancaman dan resiko, Ketidak-pastian, kerancuan, dan pertikaian. Sedangkan yang mencakup variabel sosial adalah kebutuhan resmi, meta –value, politik, dan ekonomi.

Dengan pola dikotomi, berdasarkan formula Hersey dan Blanchard serta penjelasan yang dikemukakan Kowalski dkk. di atas, penulis bisa membagi faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan menjadi dua faktor besar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang muncul dari diri pemimpin, sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang terkait dengan karakteristik bawahan dan situasi. Termasuk didalamnya situasi organisasi dan sosial.
  1. Faktor Internal, Sebagai seorang pribadi, pemimpin tentu memiliki karakter unik yang membedakannya dengan orang lain. Keunikan ini tentu akan berpengaruh pada pandangan dan cara ia memimpin. Ada karakter bawaan yang menjadi ciri pemimpin sebagai individu, ada kompetensi yang terbentuk melalui proses pematangan dan pendidikan.
  1. Faktor Eksternal, Faktor eksternal jika dikaitkan dengan formula Hersey dan Blanchard, adalah faktor bawahan dan situasi. Faktor bawahan adalah faktor yang disebabkan oleh karakter bawahan, di dalamnya terkait dengan status sosial, pendidikan, pekerjaan, harapan, ideologi, agama dll. Faktor-faktor itu tentu akan menentukan bagaimana pemimpin mengatur dan mempengaruhinya. Jika bawahan itu adalah siswa, maka pemipimpin akan menjalan pola kepemimpinan sesuai dengan karakter siswa. Karakter siswa pun akan berbeda-beda, ada yang belum dewasa sehingga pemimpin mendekatinya dengan pendekatan pedagogi, ada pula siswa yang sudah dewasa sehingga memerlukan pendekatan andragogi. Faktor eksternal lain adalah faktor situasi. Situasi ini berkaitan dengan aspek waktu, tempat, tujuan, karakteristik organisasi dll.
D. Implikasi Manajerial Kepemimpinan dalam Organisasi
Kepemimpinan memainkan peran yang sangat sentral dalam usaha memahami perilaku kelompok, karena pemimpinlah yang biasanya memberikan pengarahan untuk mengejar tujuan. Karena itu, kapabilitas perkiraan yang lebih akurat akan menjadi sangat bermanfaat untuk memperbaiki kinerja kelompok.

Para manajer merupakan agen utama perubahan dalam sebagian besar organisasi. Dengan keputusan yang mereka buat dan perilaku mereka yang menjadi model peran, mereka membentuk kultur perubahan dalam organisasi. Sebagai contoh, keputusan manajemen yang terkait dengan desain struktur, faktor kultur, dan kebijakan sumber daya manusia banyak menentukan tingkat inovasi dalam organisasi. Serupa dengan hal ini, keputusan, kebijakan, dan praktik-praktik manajemen akan menentukan tingkat sampai mana organisasi belajar dan beradaptasi dengan faktor-faktor lingkungan yang senantiasa berubah.

Tingkat konflik yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat menghambat keefektifan sebuat kelompok atau organisasi, sehingga menyebabkan turunnya tingkat kepuasan anggota,  naiknya tingat ketidakhadiran dan perputaran karyawan (turnover), dan pada akhirnya anjloknya produktivitas.  Nasihat apa yang dapat kita berikan kepada para manajer yang menghadapi konflik berlebihan dan perlu menurunkannya? Sebagai manajer anda harus memilih cara yang tepat sesuai dengan situasi.

a.]Gunakan cara persaingan, ketika tindakan yang cepat dan menentukan sangat penting.
b.]Gunakan cara kolaborasi, untuk mencari solusi integratif ketika kepentingan dari kedua pihak terlalu penting untuk dikompromikan.
c.]Gunakan cara penghindaran, ketika sebuah isu tidak begitu penting atau ketika isu yang lebih penting mendesak untuk ditangani.
d.]Gunakan cara akomodasi, ketika anda mendapati diri anda salah dan untuk memungkinkan posisi yang lebih baik untuk didengar, belajar, dan memperlihatkan kewajaran.
e.]Gunakan cara kompromi,  ketika sasarannya penting tetapi tidak sebanging dengan potensi gangguan terhadap pendekatan yang lebih asertif.

Saya sebagai rakyat Indonesia sangat mengharapkan sosok pemimpin seperti Ir. Soekarno kembali hadir untuk membangunkan Tanah Air kembali menjadi salah satu negara kesatuan yang dapat menonjolkan dirinya di ranah Internasional. Ir. Soekarno dapat dijadikan pedoman kita dalam hal kepemimpinannya baik gaya maupun sifat nya. Tentu saja harus disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan tempat kita menerapkannya.

DAFTAR PUSTAKA
[1.] PAPER KELOMPOK STUDI KEPEMIMPINAN, http://xa.yimg.com/kq/groups/22852964/1964185841/name/paper, 13 Juni 2009. Diakses Minggu, 13 April 2014 [12.03]

[2.] Marsha Putri Mandalika, TUGAS SKI, http://marsmandalika.blogspot.com/. Diakses Minggu 12 April 2014 [20.14]


[3.] AmanahSystem.com, MENGENAL KEPEMIMPINAN SOEKARNO PRESIDEN PERTAMA RI, http://www.amanahsystem.com/2013/04/mengenal-kepemimpinan-soekarno-presiden.html. Diakses 13 April 2014 [08.39]

[4.] Idviosa Frisca, ARTI PENTING KEPEMIMPINAN, http://idviosafrisca.blogspot.com/2013/04/arti-penting-kepemimpinan.html. Diakses, 14 April 2014 [18.40]

[5.] AH, Pohan. Be A Smart Leader: Rahasia di Balik Keputusan CEO dan Manajer Hebat. Penerbit Pustaka Grhatama, 2010: Yogyakarta.

[6.] Stephen P. Robbins, Timothy A. Judge. Perilaku Organisasi, Edisi 12. Penerbit Salemba Empat, 2008: Jakarta.

[7.] John M. Ivancevich, Robert Konopaske, Michael T. Matteson. ORGANIZATIONAL BEHAVIOR AND MANAGEMENT, SEVENTH EDITION. Penerbut Erlangga, 2006.

[8.] A.M. Mangunhardjana, SJ. Kepemimpinan. http://books.google.co.id/books?id=lOmZNTTmPi8C&pg=PA12&dq=kepemimpinan&hl=id&sa=X&ei=GnpKU8XVC4PyrQe4y4Eg&sqi=2&redir_esc=y#v=onepage&q=kepemimpinan&f=true. Diakses Minggu, 13 April 2014 [13.10]

[9.] Irawaty A. Kabar, Konsep Kepemimpinan dalam Perubahan Organisasi pada Perpustakaan Perguruan Tinggi. 2008. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16090/1/pus-jun2008-%20(4).pdf. Diakses Minggu,13 April 2014. 


READMORE