, | DHANDY YUSUF SAHYADI | BLOG
Floating Right

Tugas #5 - Kalimat Dasar


Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis, harus memiliki subjek (S) dan predikat (P). Kalau tidak memiliki unsur subjek dan unsur predikat, pernyataan itu bukanlah kalimat. Dengan kata yang seperti itu hanya dapat disebut sebagai frasa. Inilah yang membedakan kalimat dengan frasa. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?) dan tanda seru (!).

P E N G E R T I A N    K A L I M A T
Menurut beberapa pendapat para ahli bahasa, menyatakan pengertian dan garis besar Kalimat di bawah ini:
  • Dardjowidojo (1988: 254) menyatakan bahwa kalimat ialah bagian terkecil dari suatu ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketatabahasaan. 
  • Slametmuljana (1969) menjelaskan kalimat sebagai keseluruhan pemakaian kata yang berlagu, disusun menurut sistem bahasa yang bersangkutan; mungkin yang dipakai hanya satu kata, mungkin lebih.
(1)    Yudha sedang belajar di kamar.
Contoh (1) di atas merupakan sebuah kalimat. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah bagian terkecil teks atau wacana yang dapat mengungkapkan suatu pikiran, merupakan suatu satuan gramatikal yang dapat berdiri sendiri, yang terdiri atas suatu klausa yang disusun menurut bahasa yang bersangkutan.

C I R I – C I R I    K A L I M A T
Setelah membahas pengertian kalimat pada bahasan sebelumnya, apakah anda sudah mengetahui apa ciri-ciri dari sebuah kalimat dasar? Berikut adalah penjelasannya.
a.    Kalimat dasar hanya terdiri atas satu klausa.
Kalimat dasar tidak mungkin terdiri dari dua klausa. Yang terdiri atas dua klausa atau lebih bukan kalimat dasar, melaikan kalimat turunan, yakni kalimat majemuk.
b.    Kalimat dasar tidak beratribut.
Kalimat dasar dapat mempunyai kemungkinan untuk diperluas. Contoh: Saya pergi dapat diperluas menjadi Saya sendiri akan segera pergi.
c.    Kalimat dasar susunannya tidak inversi.
Susunan kalimat dasar adalah D-M (Diterangkan-Menerangkan), bukan M-D. Contoh: Akan segera pergi/saya bukan kalimat dasar, melainkan kalimat turunan.
d.    Kalimat dasar terdiri dari unsur-unsur wajib.
Unsur-unsur wajib kalimat itu adalah Subjek(S), Predikat(P), Objek(O), dan Pelengkap(P). Contoh: Saya / akan pergi ; Saya / nanti / akan pergi; Saya / akan pergi / nanti.
e.    Kalimat dasar terdiri atas unsur-unsur wajib yang tidak dapat dilesapkan. 
f.    Kalimat dasar adalah kalimat yang belum mengalami proses penggantian (subtitusi).
Apabila subtitusi terjadi, kalimat dasar bukanlah kalimat dasar lagi. Contoh:
Sono menertawakan Soni  Sono menertawakannya. Sony disubstitusi dengan –nya.
g.    Kalimat dasar adalah kalimat yang predikatnya berbentuk aktif.
Contoh: Dhandy mencuci baju (aktif)  Baju saya cuci (aktif). Kalimat pasif adalah kalimat turunan, bukan lagi kalimat dasar.
h.    Kalimat dasar adalah tidak adanya nominalisasi.
Contoh: Ibu pulang  Pulangnya tadi pagi.
Jadi, ciri-ciri kalimat yang paling utama adalah mengandung unsur-unsur kalimat, yaitu subjek, predikat, objek, pelengkat, dan keterangan. Kemudian susunannya adalah Menerangkan – Diterangkan, merupakan kalimat aktif bukan kalimat pasif,dan hanya terdiri satu klausa.

U N S U R – U N S U R    K A L I M A T
Setelah membahas ciri-ciri dari kalimat dasar, yaitu salah satunya adalah mengandung unsur-unsur kalimat. Apa saja unsur-unsur kalimat tersebut? Dan bagaimana bentuknya? Perhatikan penjelasan di bawah ini: 
A.    S U B J E K
Subjek atau pokok kalimat merupakan unsur utama kalimat. Subjek merupakan bagian kalimat yang menunjukkan pada pelaku, tokoh, atau suatu masalah yang menjadi pokok pembicaraan. Biasanya subjek diisi oleh kata benda atau frasa nominal, klausa, atau frasa verbal. Dalam pola kalimat bahasa Indonesia, subjek biasanya terletak sebelum predikat. Ciri-ciri Subjek :
1. Jawaban atas pertanyaan Apa atau Siapa yang ditujukan kepada predikat.
2. Disertai oleh kata ini, itu dan yang ( ini, itu dan yang merupakan pembatas antara subyek dan predikat.
3. Didahului kata bahwa. Subjek kalimat dapat berupa kata dan dapat pula berupa frasa. Contoh :
a. Ayahku sedang membaca Koran.
b. Saya sudah mulai mengantuk.
c. Air sungai kecil itu terus menerus menggericik.

B.    P R E D I K A T
Sama hal nya dengan subjek, predikat suatu kalimat kebanyakan muncul secara eksplisit. Predikat merupakan bagian kalimat yang memberi tahu perbuatan apa yang dilakukan oleh subyek, yaitu pelaku/tokoh didalam suatu kalimat. Predikat juga menyatakan sifat/ keadaan subyek. Predikat dalam kalimat berfungsi sebagai (1) pembentuk kalimat dasar, kalimat tungga, kalimat luas, dan kalimat majemuk, (2) menjadi unsur penjelas, yaitu memperjelas pikiran atau gagasan makna kalimat, (3) menegaskan makna. Predikat dalam bahasa Indonesia bisa berwujud kata atau frasa verbal, adjektival, nominal, numeral, dan preposisional. Ciri-ciri Predikat:
1.    Jawaban atas pertanyaan Mengapa dan Bagaimana.
2.    Didahului dengan keterangan aspek, seperti: akan, sudah, sedang, dll.
3.    Didahului dengan keterangan modalitas, seperti: sebaiknya, seharusnya, selayaknya, dll.
4.    Didahului oleh kata adalah, ialah, yaitu, dan yakni.
5.    Tidak dihului dengan kata tidak atau bukan.
6.    Predikat dapat berupa kata benda, kata kerja, kata sifat, atau bilangan.

Predikat kalimat dapat berupa kata dan dapat pula berupa frasa. Contoh :
a. Bisnisnya berkembang.
b. Dia sukses
c. Pengusaha itu sudah mendapatkan peluang pengembangan bisnisnya.

C.    O B J E K
Objek merupakan bagian kalimat yang melengkapi predikat. Objek umummnya diisi oleh nomina, frasa nominal, atau klausa. Letak objek selalu dibelakang predikat yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya objek yang berawalan me-. Sedangkan Predikat yang berupa verba intransitif (kebanyakan berawalan ber- atau ter-) tidak memerlukan objek. Ciri-Ciri Objek :
1.    Jawaban atas pertanyaan Apa dan Siapa yang terletak di belakang predikat transitif
2.    Berupa kata benda, dan tidak didahului kata depan.
3.    Mengikuti secara langsung di belakang predikat (transitif).
Contoh:
a. Orang itu menipu adik saya.
b. Ayahku membeli barang antik.
D.    P E L E N G K A P
Pelengkap adalah unsur kalimat yang berfungsi melengkapi informasi, mengkhususkan objek, dan melengkapi struktur kalimat. Ciri-ciri pelengkap:
1. Terletak dibelakang predikat
Ciri ini sama dengan objek. Perbedaannya, objek langsung di belakang predikat, sedangkan pelengkap masih dapat disisipi unsur lain, yaitu objek.
2. Hasil jawabannya dari predikat dengan pertanyaan apa.
Contoh:
a. Indonesia berdasarkan Pancasila
b. Ardi ingin selalu berbuat kebaikan
c. Kaki Cecep tersandung batu.

E.    K E T E R A N G A N
Keterangan merupakan bagian kalimat yang menerangkan predikat dalam sebuah kalimat. Posisis keterangan boleh diawal, tengah dan akhir kalimat. Pengisi keterangan adalah adverbia, frasa nominal, frasa preposisional, atau klausa.
Contoh :
a. Anton menjilid makalah kemarin pagi.
b. Polisi menyelidiki kasus pembunuhan dengan hati-hati.
c. Karena malas belajar, Chyntya tidak lulus ujian.
Jenis-Jenis Keterangan :
a.    Tempat             : di, ke, dari, (di) dalam, pada;
b.    Cara                 : secara, dengan cara, dengan jalan;
c.    Waktu               : pada, dalam, se-, sebelum, dll;
d.    Alat                  : dengan;
e.    Tujuan              : supaya, untuk, bagi, demi;
f.    Penyerta           : dengan, bersama, beserta;
g.    Penyebaban     : karena, sebab;   
h.    Similatif           : seperti, bagaikan, laksana.

P O L A     K A L I M A T    D A S A R
Pola kalimat dasar sekurang-kurangnya terdiri atas subjek(S) dan predikat(P). Pola kalimat dasar mempunyai ciri-ciri:
a.    Berupa kalimat tunggal (satu S, satu P, satu O, satu pel, satu K).
b.    Selalu diawali dengan subjek.
c.    Berbentuk kalimat aktif.
d.    Unsur tersebut ada yang berupa kata dan ada yang berupa frasa.
e.    Dapat dikembangkan menjadi kalimat luas dengan memperluas unsur-unsurnya.
Berdasarkan penelitian para ahli, pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.
1. KB + KK                                    : Mahasiswa berdiskusi.
2. KB + KS                                     : Dosen itu ramah.
3. KB + KBil                                  : Harga buku itu sepuluh ribu rupiah.
4. KB + (KD + KB)                       : Tinggalnya di Palembang.
5. KB1 + KK + KB2                      : Mereka menonton film.
6. KB1 + KK + KB2 + KB3          : Paman mencarikan saya pekerjaan.
7. KB1 + KB2                                : Rustam peneliti.
Ketujuh pola kalimat dasar ini dapat diperluas dengan berbagai keterangan dan dapat pula pola-pola dasar itu digabung-gabungkan sehingga kalimat menjadi luas dan kompleks.

Kalimat dasar dapat dibedakan menjadi sebagai berikut:
1. Kalimat dasar berpola SPOK
2. Kalimat dasar berpola SPOPel  

3. Kalimat dasar berpola SPO


4. Kalimat dasar berpola SPPel


5. Kalimat dasar berpola SPK


6. Kalimat dasar berpola SP (P: verba)


7. Kalimat dasar berpola SP (P: Nomina)


8. Kalimat dasar berpola SP (P: Adjektiva)


J E N I S – J E N I S    K A L I M A T
J E N I S    K A L I M A T    B E R D A S A R K A N    J U M L A H     K L A U S A / S T R U K T U R    G R A M A T I K A L N Y A
A. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Kalimat-kalimat tunggal yang sederhana itu terdiri atas satu subjek dan satu predikat. Mari kita lihat sekali lagi pola-pola kalimat dasar tersebut.
1. Mahasiswa berdiskusi
   S: KB + P: KK
2. Dosen ramah
   S: KB + P: KS
B. Majemuk Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara terjad dari dua kalimat tunggal atau lebi. Kalimat majemuk setara dikelompokkan menjadi empat jenis, sebagai berikut:

1.    Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata dan atau serta jika kedua kalimat tunggal atau lebih itu sejalan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara penjumlahan.
Contoh:
a. Kami membaca
b. Mereka menulis

2.    Kedua kaltunggal yang berbentuk kalimat setara itu dapat dihubungkan oleh kata tetapi jika kalimat itu menunjukkan pertentangan, dan hasilnya disebut kalimat majemu setara pertentangan.
Contoh:
a. Amerika dan Jepang tergolong negara maju.
b. Indonesia dan Brunei Darussalam tergolong negara berkembang.

3.    Dua kalimat tunggal ata lebih dapat dihubungkan oleh kata lalu dan kemudian jika kejadian yang dikemukakannya berurutan.
Contoh:
a. Mula-mula disebutkan nama-nama juara MTQ tingkat remaja, kemudian disebutkan namanama juara MTQ tingkat dewasa. Upacara serah terima pengurus koperasi sudah selesai, lalu Pak Ustaz membacakan doa selamat.

4.    Dapat pula dua kalimat tunggal atau lebih dihubungkan oleh kata atau jika kalimat itu menunjukkan pemilihan, dan hasilnya disebut kalimat majemuk setara pemilihan.
Contoh:
a. Para pemilik televisi membayar iuran televisinya di kantor pos yang terdekat, atau para petugas menagihnya ke rumah pemilik televisi langsung.

C. Kalimat Majemuk tidak Setara
Kalimat majemuk tidak setara terdiri atas satu suku kalimat yang bebas dan satu suku kalimat atau lebih yang tidak bebas. Jalinan kalimat ini menggambarkan taraf kepentingan yang berbeda-beda di antara unsur gagasan yang majemuk. Inti gagasan dituangkan ke dalam induk kalimat, sedangkan pertaliannya dari sudut pandangan waktu, sebab, akibat, tujuan, syarat, dan sebagainya dengan aspek gagasan yang lain diungkapkan dalam anak kalimat.
Contoh:
a. Komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern. (tunggal)
b. Mereka masih dapat mengacaukan data-data komputer. (tunggal)
c. Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern, mereka masih dapat mengacaukan data-data komputer itu.
J E N I S    K A L I M A T    B E R D A S A R K A N     F U N G S I N Y A
A. Kalimat Pernyataan (Deklaratif)
Kalimat pernyataan dipakai jika penutur ingin menyatakan sesuatu dengan lengkap pada waktu ia ingin menyampaikan informasi kepada lawan berbahasanya. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca titik).
Misalnya:
a. Positif
-. Presiden Gus Dur mengadakan kunjungan ke luar negeri.
b. Negatif 
-. Tidak semua bank memperoleh kredit lunak.
B. Kalimat Pertanyaan (Interogatif)
Kalimat pertanyaan dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi (jawaban) yang diharapkan. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca tanda tanya). Pertanyaan sering menggunakan kata tanya seperti bagaimana, di mana, mengapa, berapa, dan kapan.
Misalnya:
a. Positif
-. Kapan Saudara berangkat ke Singapura?
b. Negatif
-. Mengapa gedung ini dibangun tidak sesuai dengan bestek yang disepakati?
C. Kalimat Perintah dan Permintaan (Imperatif)
Kalimat perintah dipakai jika penutur ingin “menyuruh” atau “melarang” orang berbuat sesuatu. (Biasanya, intonasi menurun; tanda baca titik atau tanda seru).
Misalnya:
a. Positif
-. Maukah kamu disuruh mengantarkan buku ini ke Pak Sahluddin!
b. Negatif
-. Sebaiknya kita tidak berpikiran sempit tentang hak asasi manusia.
D. Kalimat Seruan
Kalimat seruan dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan “yang kuat” atau yang mendadak. (Biasanya, ditandai oleh menaiknya suara pada kalimat lisan dan dipakainya tanda seru atau tanda titik pada kalimat tulis).
Misalnya: 
a. Positif
-. Bukan main, cantiknya.
b. Negatif
-. Aduh, pekerjaan rumah saya tidak terbawa.
J E N I S    K A L I M A T    B E R D A S A R K A N    S E G I    M A K N A N Y A
1.    Kalimat Berita 
Adalah kalimat yang isinya memberikan sesuatu kepada pembaca atau pendengar. Kalimat berita tersebut juga kalimat deklaratif.
Contoh:
a.    Tadi pagi ada tabrakan mobil di jalan Akhmad Yani nomor 15.
2.    Kalimat Perintah
Adalah kalimat yang isinya memberikan perintah untuk melakukan sesuatu. Kalimat perintah disebut juga kalimat imperatif.
Contoh:
a.    Berliburlah ke tempat pamanmu! (aktif taktransitif)
b.    Carilah pekerjaan apa saja! (aktif transitif)
 3.    Kalimat Tanya
Adalah kalimat yang isinya menanyakan sesuatu kepada seseorang. Kalimat tanya disebut juga kalimat interogatif. Cara membentuk kalimat tanya parsial ialah dengan menambahkan kata tanya apa (siapa, berapa, kapan, apabila) dan mana (di mana, ke mana, dari mana, bagaimana, bila mana). 
Contoh:
a. Siapa yang dicarinya?
b. Apa yang dikehendakinya?
c. Kapan peristiwa itu terjadi?
4.    Kalimat Seru
Adalah kalimat yang isinya mengungkapkan kekaguman perasaan. Karena rasa kagum berhubungan dengan sifat, maka kalimat seru dibentuk dari kalimat statif.
Contoh:
a. Gadis itu cantik! -->  Cantik gadis itu!
b. Cantiknya gadis itu!
c. Alangkah cantiknya gadis itu!

D A F T A R    P U S T A K A
[1]. Bahasa Indonesia, Kalimat Dasar. BINDO FIX.doc. Link: https://docs.google.com/document/d/18Lv5yg0BsjiPL_XGVrOHEs-QN_UZwNnYTKA79SrXhI0/edit

[2]. Hasan Alwi dan Dendy Sugono, Telaah Bahasa dan Sastra, Penerbit: Yayasan ADIKARYA IKAPI dan THE FORD FOUNDATION Anggota IKAPI DKI Jakarta, Cet, Ke-I. Jakarta.

[3]. Widjono, HS. BAHASA INDONESIA: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi, Cetakan ke-2 Edisi Revisi. PT Grasindo: Jakarta

[4]. Kalimat, Kalimat. Link: http://suanansan.blogspot.com/2012/09/kalimat.html

[5]. Rahma. Kalimat Dasar Bahasa Indonesia. Link: http://rahmaekaputri.blogspot.com/2010/10/kalimat-dasar-bahasa-indonesia.html
READMORE
 

Tugas #4 - EYD

E Y D    ( E j a a n    Y a n g    D i s e m p u r n a k a n )
P  e  n  g  e  r  t  i  a  n      E  Y  D
  
Secara umum, orang beranggapan bahwa ejaan berhubungan dengan melisankan. Hal ini terkait dengan makna kata mengeja (kata atau nama), yaitu menyebutkan huruf demi huruf pada kata atau nama itu. Di dalam bahasa, sebetulnya ejaan berhubungan dengan ragam bahas tulis, Ejaan adalah cara menuliskan bahasa (kata atau kalimat) dengan menggunakan huruf atau tanda baca. Untuk mengetahui sejarah pmbentukan EYD, penulis membahas sejarah EYD dari Ejaan van Ophuijsen hingga EYD .

1. Ejaan van Ophuljsen  
Pada tahun 1901 ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin, yang disebut Ejaan van Ophuljsen. Ejaan tersebut dirancang oleh beliau dibantu oleh Engku Nawawi Gelar SOetan Ma'moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan ini adalah sebagai berikut:
a. Huruf / untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
b. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
c. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma'moer, 'akal, 'ta', pa', dinamai'.
2. Ejaan Soewandi 
Pada tanggal 19 Maret 1947 ejaan Soewandi diresmikan menggantikan ejaan van Ophuljsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan Ejaan Republik. Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut:
a. Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur.
b. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan huruf k, seperti kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
c.  Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
d. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkaian kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun, disamakan dengan imbungan di- pada ditulis, dikarang.
3. Ejaan Melindo 
Pada akhir 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slametmulyana-Syeh Nasir bin Ismail, Ketua( menghasilkan konseo ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Perkembangan politik selama itu bertahun-tahun berikutnya mengurungkan peresmian ejaan itu.

4. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan
Pada tanggal 16 Agustus 1972, Presiden Republik Indonesia ke-2, Soeharto meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.

Revisi 1987
Pada tahun 1987, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan". Keputusan menteri ini menyempurnakan EYD edisi 1975.

Revisi 2009
Pada tahun 2009, Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Dengan dikeluarkannya peraturan menteri ini, maka EYD edisi 1987 diganti dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

C i r i   -    C i r i    E j a a n    B  a h a s a    y a n g    D i s e m p u r n a k a n
1. Perubahan Huruf
  • Ejaan Soewandi
a. Dj     : Djalan, djauh;
b. J       : Pajung, laju;
c. Nj     : Njonja, bunji;
d. Sj     : Isjarat, masjarakat;
e. Tj     : Tjukup;
f. Ch    : Achir.
  • Ejaan Yang Disempurnakan
a. J      : Jalan, jauh;
b. Y    : Payung, layu;
c. Ny  : Nyonya, bunyi;
d. Sy  : Isyarat, masyarakat;
e. C    : Cukup;
f. Kh  : Akhir.
2. Huruf-huruf ini, sebelumnya sudah terdapat dalam Ejaan Soewandi sebagai unsur pinjaman abjad asing, diresmikan pemakaiannya.
Contoh: Valuta, Universitas.
3. Huruf-huruf p dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai. 
Contoh: a : b = p : q.
4. Penulisan di- atau ke- sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan dibedakan.
Contoh:
  • di- (awalan)
a. ditulis;
b. dibakar;
c. dilepar.
  • di (kata depan)
a. di kampus;
b. di rumah;
c. di jalan.
5. Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh digunakan angka 2. 
Contoh: anak-anak, berjalan-jalan, meloncat-loncat.

P e m a k a i a n    H u r u f
a) Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf yang berikut. Nama huruf disertakan di sebelahnya.
Huruf
Nama
Huruf
Nama
Huruf
Nama
A       a
B       b
C       c
D      d
E       e
F        f
G      g
H      h
I         i
a
be
ce
de
e
ef
ge
ha
i
J          j
K        k
L          l
M       m
N        n
O        o
P        p
Q        q
R         r
je
ka
el
em
en
o
pe
ki
er
S         s
T         t
U         u
V         v
W        w
X         x
Y         y
Z         z
es
te
u
ve
we
eks
ye
zet
b) Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o,dan u. Dalam pengajaran lafal kata, dapat digunakan tanda aksen jika ejaan kata menimbulkan keraguan.
c) Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, e, f, g, h, i, j, k, l, m, n, o, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

d) Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.

e) Gabungan Huruf Konsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy. Masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.
f) Huruf Kapital
1) Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
2) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
3) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, nama Nabi/Rasul, dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
4) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.

g) Huruf Miring
1) Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah atau surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
2) Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata atau sekelompok kata.
3) a. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan  kata atau ungkapan yang bukan bahasa Indonesia.
    b. ungkapan asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya diperlakukan sebagai bahasa  Indonesia.

h) Huruf Tebal
1) Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks dan lampiran.
2) Huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf , bagian kata, kata, atau kelompok kata; untuk keperluan itu digunakan huruf miring.
3) Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan lema dan sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan polisemi.
P e n u l i s a n    K a t a
a) Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.

b) Kata Turunan
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
- Jika bentuk kata dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
- Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsure gabungan kata itu ditulis serangkai.
- Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
c) Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.

d) Gabungan Kata
1) Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsure-unsurnya ditulis terpisah.
2) Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan.

e) Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; ku, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

f) Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.

g) Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

h) Partikel
Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.

P e m a k a i a n    T a n d a    B a c a
a) Tanda Titik (.)
1) Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pernyataan atau seruan.
2) Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan ikhtisar, atau daftar.
3) Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
4) Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.
5) Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
b) Tanda Koma (,)
1) Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
2) Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
3) Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
4) Tanda koma dipakai dibelakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagipula, meskipun begitu, akan tetapi.
5) Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o,ya, wah, aduh, kasihan, dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat.
c) Tanda Titik Koma (;)
1) Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan lansung dari bagian kalimat yang mengirinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
2) Tanda titik koma sebagai pengganti kata pengubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
d) Tanda Titik Dua (:)
1) Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.
2) Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
3) Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
4) Tanda titik dua dipakai (i) diantara jilid atau nomer dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
e) Tanda Hubung
1) Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
2) Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata didepannya pada pergantian baris.
3) Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang. Angka “2” sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.
4) Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tunggal.
5) Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian kata atau ungkapan dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.
f) Tanda Pisah (-)
1) Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangunan kalimat.
2) Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
3) Tanda pisah dipakai diantara dua bilangan atau tanggal yang berarti ‘sampai ke’ atau ‘sampai dengan’.
g) Tanda Elipsis (…)
1) Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
2) Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
h) Tanda Tanya (?)
1) Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
2) Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
i) Tanda seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
j) Tanda kurung ((…))
1) Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan.
2) Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
3) Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
4) Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
k) Tanda kurung siku ([…])
1) Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.
2) Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
l) Tanda Petik (“…”)
1) Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
2) Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
3) Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
4) Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
5) Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
m) Tanda Petik Tunggal ('...')
1) Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
2) Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
n) Tanda Garis Miring (/)
1) Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
2) Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.
 o) Tanda Penyingkat (Apostrof) (')  
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.


D A F T A R    P U S T A K A
1. EYD: Ejaan Yang Disempurnakan TERBARU Plus. Simple Publishing. Link:
2. Haryanto, A.G, Metode Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah: Buku Ajar Untuk Mahasiswa. Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2000: Jakarta. Link:
3. Kumpulan Makalah dan Artikel Islam, Makalah Ejaan yang Disempurnakan. Link:
READMORE
 

Tugas #3 - Diksi

Indonesia memiliki bermacam-macam suku bangsa dan bahasa. Bermacam-macam suku bangsa ini tentunya memiliki banyak bentuk bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang digunakan juga memiliki karakter berbeda-beda sehingga penggunaan bahasa tersebut berfungsi sebagai sarana komunikasi dan identitas untuk masyarakat tersebut. Seperti yang telah dijelaskan pada tugas-tugas sebelumnya mengenai fungsi bahasa Indonesia, makhluk sosial tidak bisa terlepas dari yang namanya berkomunikasi dalam setiap aktivitas nya setiap hari. Dalam kehidupan kita dalam berkomunikasi, sering kita jumpai seseorang kesulitan menangkap informasi yang diberikan orang lain. Hal ini disebabkan oleh pemilihan kata yang kurang tepat diakibatkan kurang nya pemahaman tentang kosa kata dan mungkin juga karena kurangnya perbendaharaan kata dan dapat menimbulkan salah paham diantaranya.

Pemilihan kata yang tepat merupakan saran pendukung dan penentu dalam keberhasilan komunikasi. Pilihan kata atau diksi bukan hanya soal pilih-memilih kata, melainkan lebih mencakup bagaimana efek kata tersebut terhadap makna dan informasi yang ingin disampaikan. Pemilihan kata tidak hanya digunakan dalam berkomunikasi namun juga digunakan dalam bahasa tulis (jurnalistik). Dalam bahasa tulis  pilihan kata (diksi) mempengaruhi pembaca mengerti atau tidak dengan kata-kata yang kita pilih.


Dalam tugas kali ini, akan dibahas mengenai diksi dan penggunaannya sehari-hari dalam komunikasi.

D  I  K  S  I
P  e  n  g  e  r  t  i  a  n      D  i  k  s  i
Seseorang yang menguasai banyak kosa kata dapat menyampaikan gagasannya dengan baik. Akan lebih baik jika dalam mengungkapkannya, ia dapat memilih dan menempatkan kata secara tepat dan sesuai. Sehingga lawan bicara dapat memahami gagasan tersebut. Pemilihan kata bukanlah sekedar kegiatan memilih kata yang tepat, melainkan juga kata yang sesuai. Sesuai dalam hal ini adalah sesuai dimana kosa kata itu berada, dan maknanya tidak bertentangan dengan nilai masyarakat pemakainya. Sebagai contoh, kata mati bersinonim dengan meninggal, wafat, mangkat, tewas, gugur, dll. Akan tetapi tetapi kata-kata tersebut tidak bebas digunakan. Mengapa? Karena ada rasa dan makna yang membedakannya. Kita tidak dapat mengatakan "Kucing kesayanganku wafat tadi malam". Karena pada hakikatnya, yang dapat dikatakan dengan kata wafat adalah manusia, bukannya hewan. Tergantung juga pada ketepatan makna pada masyarakat pemakainya.

Diksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pusat bahasa Departemen Pendidikan Indonesia adalah pilihan kata yg tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Fungsi dari diksi antara lain :

1. Membuat pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak salah paham terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara atau penulis.
2. Untuk mencapai target komunikasi yang efektif.
3. Melambangkan gagasan yang di ekspresikan secara verbal.
4. Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.
Diksi terdiri dari delapan elemen yaitu : fonem, silabel, konjungsi, hubungan, kata benda, kata kerja, infleksi, dan uterans. Diperlukan dua persyaratan dalam rangka pemilihan kata, yaitu:
1.  Ketepatan Pilihan Kata: Berkenaan dengan kata yang digunakan sudah setepat-tepatnya, sehingga tidak menimbulkan anggapan yang lain antara pembicara dan pendengar atau penulis dengan pembaca. 
2.  Kesesuaian Pilihan Kata: Berkenaan dengan kata yang digunakan tersebut tidak merusak sesuana atau menyinggung perasaan orang yang diajak berbahasa.
Ketepatan akan menghasilkan kepastian makna, sedangkan kesesuaian menyangkut kecocokan antara kata yang dipakai dengan situasi yang hendak diciptakan, sehingga tidak menggangu suasana batin, emosi, atau psikis antara penulis dan pembacanya. Oleh karena itu, untuk menghasilkan karangan yang berkualitas, anda harus memperhatikan ketepatan dan kesesuaian kata. Macam macam hubungan makna :

1. Sinonim. 
Merupakan kata-kata yang memiliki persamaan / kemiripan makna. Sinonim sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain. Contoh: Kata buruk dan jelek, mati dan wafat.
2. Antonim.
Merupakan ungkapan (berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna /ungkapan lain. Contoh: Kata bagus berantonim dengan kata buruk; kata besar berantonim dengan kata kecil.
3. Polisemi.
Adalah sebagai satuan bahasa (terutama kata atau frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Contoh: Kata kepala bermakna ; bagian tubuh dari leher ke atas, seperti terdapat pada manusia dan hewan, bagian dari suatu yang terletak di sebelah atas atau depan, seperti kepala susu, kepala meja,dan kepala kereta api, bagian dari suatu yang berbentuk bulat seperti kepala, kepala paku dan kepala jarum dan Iain-lain.
4. Hiponim.
Adalah suatu kata yang yang maknanya telah tercakup oleh kata yang lain, sebagai ungkapan (berupa kata, frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan. Contoh : kata tongkol adalah hiponim terhadap kata ikan, sebab makna tongkol termasuk makna ikan.
5. Hipernim.
Merupakan suatu kata yang mencakup makna kata lain.
6. Homonim.
Merupakan kata-kata yang memiliki kesamaan ejaan dan bunyi namun berbeda arti.
7. Homofon.
Merupakan kata-kata yang memiliki bunyi sama tetapi ejaan dan artinya berbeda.
8.Homograf. 
Merupakan kata-kata yang memiliki tulisan yang sama tetapi bunyi dan artinya berbeda.

M a k n a    D e n o t a t i f    dan    K o n o t a t i f
Makna denotasi dan konotasi dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya nilai rasa. Kata denotasi menekankan tidak adanya nilai rasa, sedangkan konotasi bernilai rasa kias.

M ak n a    D e n o t a t i f 
Anda membaca tulisan ini... kalimat diatas menyatakan bahwa anda memang sedang membaca tulisan ini. Tidak terdapat makna kiasan di dalamnya, tetapi makna yang sebenarnya yang diperoleh dari hasil penglihatan kita. Makna Denotasi merupakan makna sebenarnya dan sesuai dengan makna kamus. Makna denotasi adalah makna yang sesuai dengan hasil observasi (pengamatan) menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, dan perasaan kita yang berhubungan dengan informasi (data) yang bersifat fakta. Makna denotasi merupakan makna yang sebenarnya dan bermakna lugas, yaitu makna apa adanya, lugu, polos, dan bukan makna kias.
Contoh makna denotatif:
1. Adik makan nasi. (makan artinya memasukkan sesuatu ke dalam mulut);
2. Harga kambing hitam itu sangat mahal. (kambing hitam bermakna kambingg yang memiliki warna hitam).

M a k n a    K o n o t a t i f 
Sedangkan, makna konotatif merupakan suatu kalimat yang terdapat suatu makna kiasan atau makna yang timbul setelah disusun dalam kalimat. Contohnya:
1. Dalam peristiwa itu, dia dijadikan kambing hitam. (Kambing hitam bermakna orang yang dipersalahkan);

Makna konotasi dibagi menjadi 2 yaitu :  
A. Konotasi positif
Merupakan kata yang memiliki makna yang dirasakan baik dan lebih sopan.
Contoh : Tiga pahlawan reformasi telah gugur lima tahun yang lalu. ( Kata “gugur” bermakna mati dalam pertempuran ).

B. Konotasi negatif 
Merupakan kata yang bermakna kasar atau tidak sopan.
Contoh : Selama meringkuk di penjara, Roy berubah menjadi pendiam. ( Kata penjara bermakna tempat mengurung badan )

Kemudian dibawah ini adalah contoh-contoh kata yang bermakna denotasi dan konotasi:
1) Meluap
Denotasi : Banjir yang terjadi kemarin disebabkan oleh air sungai yang meluap tak mampudikendalikan oleh tanggul yang ada disekitanya.
Konotasi : Kemarahan Pak Budi makin hari tambah meluap karena masalah yang diperbantahkan itu tidak pernah menemukan titik permasalahannya.

K a t a    U m u m    dan    K a t a    K h u s u s
Kata umum dan kata khusus  adalah kata yang berbeda berdasarkan ruang lingkupnya. Makin luas ruang lingkup suatu kata, makin umum suatu kata. Sebaliknya, suatu kata menjadi sempit ruang lingkupnya makin khusus sifatnya.Makin umum suatu kata makin besar kemungkinan terjadi salah paham atau perbedaan saat menafsir, begitu pula sebaliknya dengan kata khusus. Dengan demikian, semakin khusus makna kata yang dipakai, pilihan kata semakin cepat. Lihat contoh berikut ini:

1) Kata umum: melihat
    Kata khusus: melotot, melirik, mengintip, menatap, memandang;

2) Kata umum: berjalan
    Kata khusus: tertatih-tatih, ngesot, terseok-seok, langkah tegap;



K a t a    A b s t r a k    dan    K a t a    K o n k r e t
Kata Abstrak --> Konsep.          ;           Kata Konkret --> Objek yang diamati.

Bagaimana maksudnya? Perhatikan contoh berikut ini:

1.) Kata abstrak 
Kebaikkan seseorang kepada orang lain merupakan sifat terpuji (tidak berbentuk atau tidak berbentuk).

2.) Kata konkret
APBN RI mengalami kenaikkan lima belas persen.

Kata yang acuannya mudah diserap panca indera manusia disebut kata konkret, seperti: meja, rumah, mobil, air, cantik,dll. Sebaliknya jika sebuah lata tidak mudah untuk diserap panca indra manusia, disebut kata abstrak. Contohnya seperti gagasan dan perdamaian.


K a t a    I l m i a h    dan    K a t a    P o p u l e r
Kata Ilmiah   adalah kata-kata logis dari bahasa asing yang bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Biasanya digunakan oleh kaum terpelajar, seperti kita para mahasiswa, terutama dalam tulisan ilmiah kita nantinya, pertemuan resmi, serta diskusi khusus.

Yang membedakan dengan  kata populer ? Yaitu kita jarang menggunakan kata ilmiah dalam komunikasi kita sehari-hari dengan orang lain, sedangkan dengan kata populer adalah kata-kata yang setiap hari kita gunakan untuk berkomunikasi dengan teman kita.


J a r g o n    dan    S l a n g
Istilah jargon  mempunyai beberapa pengertian, diantaranya kata-kata teknis yang dipergunakan secara terbatas dalam bidang ilmu, profesi atau kelompok tertentu. Kata-kata ini kerap kali merupakan kata sandi atau kode rahasia untuk kalangan teretntu (dokter, militer, perkumpulan rahasia). Oleh karena jargon itu merupakan bahasa yang khusus sekali, maka tidak akan banyak artinya bila dipakai untuk sasaran yang umum. Sebab itu hindarilah sejauh mungkin unsur jargon dalam sebuah tulisan umum.


Kata-kata slang  adalah semacam kata percakapan yang tinggi atau murni. Kata-kata slang adalah kata nonbaku, yang informal yang disusun secara khas atau kata-kata biasa yang diubah atau kata-kata kiasan yang khas. Kata-kata ini bersifat sementara. Kalau sudah terasa usang, hilang atau menjadi kata-kata biasa seperti yang terdapat di Jakarta: rapi jail, oh ketemu lagi, asoy, dan sebagainya.





- D A F T A R   P U S T A K A -

[1]. Widjono, HS. BAHASA INDONESIA: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi, Cetakan ke-2 Edisi Revisi. PT Grasindo: Jakarta
[2]. Disclamaboy's Blog. DIKSI: PENGETIAN DAN MACAM-MACAMNYA. Link Diakses pada Jumat, 10 Oktober 2014.
[3]. Peribahasa Indonesia. Pengertian Diksi Pilihan Kata. Link Diakses pada Jumat, 10 Oktober 2014.
[4]. Ani Yunita Sari. Diksi atau Pemilihan Kata. Link Diakses pada Sabtu, 11 Oktober 2014.
[5]. Renachun Ngeblog. DIKSI – Kata ilmiah, kata populer, kata jargon dan slang, Pilihan kata dan penggunaannya. Link Diakses pada Minggu, 12 Oktober 2014.
READMORE
 

Tugas #2 - Ragam Bahasa

Wilayah Indonesia merupakan kepulauan dengan ribuan pulau-pulau yang terpisahkan laut dan selat. Penduduknya terdiri atas berbagai suku bangsa yang memiliki bahasa daerahnya masing-masing, dengan latar belakang budaya dan agama yang beragam. Semua itu berdampak pada bahasa Indonesia, bahasa persatuan bangsa Indonesia yang masyarakatnya sangat mejemuk.


Seperti bahasa- bahasa lain, bahasa Indonesia mempunyai berbagai ragam bahasa. Menurut Ramelan (1982), ragam bahasa Indonesia dapat digolongkan menurut beberapa cara, yaitu menurut tempat daerahnya terdiri dari ragam bahasa dialek Jawa, Sunda, Betawi, dll. Menurut penuturnya dibedakan ragam bahasa golongan cendekiawan dan bukan cendekiawan. Menurut sarananya dikenal ragam bahasa lisan, sastra, surat kabar, dan ragam bahasa undang-undang.

R A G A M    B A H A S A

 

Bahasa : Simbol / lambang yang dihasilkan oleh alat ujaran / indera manusia untuk melakukan fungsi bahasa.

Sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, pada era saat ini muncul dua masalah pokok, yaitu terkait dengan masalah penggunaaan Bahasa Indonesia secara baku dan tidak baku. Generasi remaja hingga dewasa saat ini kurang memperhatikan tata cara penggunaan bahasa mereka sehari-harinya, dan terkadang tidak jarang bahasa sehari-hari mereka secara langsung berdampak pada penggunaan bahasa pada situasi tertentu. Pemakaian bahasa baku berkaitan dengan situasi resmi dan tidak resmi. Situasi resmi digunakan pada saat kita berada di sekolah (berhadapan dengan guru atau orang yang lebih tua) dan di kantor, atau di pertemuan-pertemuan resmi. Sebaliknya, dalam situasi tidak resmi, seperti di rumah, di pasar, dll kita tidak selalu dituntut untuk menggunakan bahasa baku. Hal ini dikarenakan agar kita dapat beradaptasi dengan lingkungan dan orang sekitar kita dengan bahasa yang nyaman dan sesuai pemakaiannya dalam aktifitas kita. Penggunaan bahasa pada situasi resmi dan tidak resmi itulah yang akan dibahas supaya kita dapat membeda-bedakan pemakaian bahasa sesuai dengan tuntutan ragamnya. Dengan demikian kita dapat menyesuaikan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar pada situasi tertentu. Ada tiga kriteria penting yang perlu diperhatikan jika kita berbicara tentang ragam bahasa. Ketiga kriteria itu ialah: (1) Media yang digunakan, (2) Latar belakang penutur, dan (3) Pokok persoalan yang dibicarakan.


M A C A M - M A C A M   R A G A M    B A H A S A 

R  a  g  a  m     B  a  h  a  s  a     I  n  d  o  n  e  s  i  a     B  e  r  d  a  s  a  r  k  a  n     M  e  d  i  a 

Dalam ragam bahasa Indonesia berdasarkan media, yang perlu diperhatikan adalah norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang atau situasi pembicaraan, pelaku pembicaraan, dan topik pembicaraan (Fishman ed., 1968; Spradley, 1980). Ragam bahasa Indonesia berdasarkan media dibagi menjadi dua yaitu:

 A. R a g a m    B a h a s a    L i s a n 
Ragam bahasa lisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan. Ragam bahasa bahasa lisan didukung oleh situasi pemakaian, namun hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntunan penggunaan kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi sebaliknya, yaitu situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap saja disebut ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak  menunjukan cir-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dengan tulisan,  ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu masing-masing adapun ciri dari keduanya:
Ciri-ciri ragam lisan:
1. Memerlukan orang kedua/teman bicara;
2. Tergantung kondisi, ruang, dan waktu;
3.  Hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh;
4. Berlangsung cepat
5. Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu;
6. Kesalaahan dapat langsung dikoreksi; dan
7. Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi
Yang termasuk dalam ragam lisan yaitu: (1) Pidato, (2) Ceramah, (3) Sambutan, (4) Berbincang-bincang, dll.  Contoh yang termasuk ragam lisan yaitu: “Sudah saya baca buku itu”. Semua itu sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat kita berkumpul dan berbicara dengan teman atau orang lain, karena tidak diikat oleh aturan-aturan atau cara penyampaian seperti halnya pidato ataupun ceramah.

 A. R a g a m    B a h a s a    T u l i s
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) dan juga dituntuk dengan adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun sususan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.
Ciri-ciri ragam tulis:
1. Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara;
2. Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu;
3. Harus memperhatikan unsur gramatikal;
4. Berlangsung lambat;
5. Selalu memakai alat bantu;
6.Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi;
7.Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda baca.
Yang termasuk dalam ragam bahasa tulis adalah: (1) Surat, (2) Karya Ilmiah, (3) Surat kabar, dll. Contoh kalimat yang termasuk dalam ragam tulis adalah: Contohnya: “Saya sudah membaca buku ini”. Dalam ragam bahasa tulis perlu memperhatikan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terutama dalam pembuatan karya-karya ilmiah.

 C. P e r b e d a a n    a n t a r a    R a g a m   L i s a n   d a n   T u l i s a n 
A. Tata Bahasa :
a.       Ragam Bahasa Lisan 
          1)      Nia sedang baca surat kabar.
          2)      Ari mau nulis surat.
          3)      Tapi kau tak boleh menolak lamaran itu.
b.      Ragam Bahasa Tulisan.
         1)         Nia sedang membaca surat kabar.
         2)         Ari mau menulis surat.
         3)         Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.
B. Kosa Kata :
a.       Ragam Bahasa Lisan
          1)    Ariani bilang kalau kita harus belajar.
          2)    Kita harus bikin karya tulis.
          3)    Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak.
b.      Ragam Bahasa Tulisan
         1)    Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar.
         2)    Kita harus membuat karya tulis.
         3)    Rasanya masih telalu muda bagi saya, Pak.

R a g a m    B a h a s a    I n d o n e s i a    d a r i    C a r a    P a n d a n g    P e n u t u r

Berdasarkan cara pandang penutur, ragam bahasa indonesia terdiri dari ragam dialek, ragam terpelajar, ragam resmi dan ragam tak resmi.

Contoh:
Ragam Dialek          : “Gue udah baca itu buku ”
Ragam Terpelajar    : “Saya sudah membaca buku itu”
Ragam Resmi          :  “Saya sudah membaca buku itu”
Ragam Tak Resmi    : “Saya sudah baca buku itu”
R a g a m    B a h a s a    I n d o n e s i a    M e n u r u t     T o p i k    P e m b i c a r a a n 
Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra.

Contoh:
Ragam Hukum       : Dia dihukum karena melakukan tindak pidana.
Ragam Bisnis           : Setiap pembelian diatas nilai tertentu akan diberikan diskon.
Ragam Sastra           : Cerita itu menggunakan Flashback.
Ragam Kedokteran : Anak itu menderita penyakit kuorsior.


PERBEDAAN RAGAM/KARANGAN ILMIAH,NON ILMIAH,DAN  SEMI-ILMIAH
 
R a g a m    I l m i a h 
Bisa juga diartikan sebagai sarana verbal yang efektif, efesien, baik, dan benar. Ragam ini lazim digunakan untuk mengomunikasikan proses kegiatan dan hasil penalaran ilmiah, misalnya dalam penulisan proposal kegiatan ilmiah, proposal penelitian.

Ciri-ciri dari bahasa Indonesia ragam bahasa ilmiah, antara lain :
  • Bahasa Indonesia ragam baku;
  • Penggunaan kalimat efektif;
  • Menghindari bentuk bahasa yang bermakna ganda;
  • Penggunaan kata dan istilah yang bermakna lugas dan menghindari pemakaian kata dan istilah yang bermakna kias;
  • Menghindari penonjolan persona dengan tujuan menjaga objektivitas isi tulisan;
  • Adanya keselarasan dan keruntutan antarproposisi dan antaralinea.
R a g a m    S e m i    I l m i a h 
Pada penulisan ini sudah dapat terlihat jelas, yaitu merupakan tehnik penulisan gabungan antara penulisan ilmiah dengan penulisan non ilmiah. Pada penulisan ini menyajikan fakta dan fiksi yang tidak semi formal. Walaupun begitu penulisannya tidak seperti penulisan ilmiah yang sistematis, sintesis maupun analistis.

Ciri-ciri ragam semi ilmiah atau ilmiah popular, yaitu :
  • Ditulis berdasarkan fakta pribadi;
  • Fakta yang disimpulkan subjektif;
  • Gaya bahasa formal dan popular;
  • Mementingkan diri penulis;
  • Melebih-lebihkan sesuatu;
  • Usulan-usulan bersifat argumentative; dan Bersifat persuasive.
Jenis karangan semi ilmiah yaitu artikel, editorial, opini, tips, reportase, dan resensi buku. Resensi buku adalah bentuk konbinasi antara uraian, ringkasan, dan kritik objektif terhadap sebuah buku.

R a g a m    N o n    I l m i a h 
Merupakan suatu karya tulis yang berbeda dari penulisan ilmiah. Dalam penulisan ilmiah dapat berupa fiksi yaitu rekaan atau karangan cerita yang di buat oleh seseorang dan di dapat dari sudut pandang pengarang itu sendiri. Dalam penulisan non ilmiah ini terdiri dari berbagai unsur yaitu penokohan, konflik, setting, dll. Walaupun begitu penulisan ini tidak boleh sembarangan dalam membuat tulisan dan harus sesuai dengan etika penulisan yang telah ada.

Dan didalam penulisan non ilmiah ini sudah dapat terlihat jelas bedanya dengan penulisan ilmiah. Yaitu terlihat dari bagaimana proses penulisan non ilmiah yang tidak teratur dan terkontrol seperti penulisan ilmiah.

Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah, yaitu:
  • Ditulis berdasarkan fakta pribadi,
  • Fakta yang disimpulkan subyektif,
  • Gaya bahasa konotatif dan populer,
  • Tidak memuat hipotesis,
  • Penyajian dibarengi dengan sejarah,
  • Bersifat imajinatif,
  • Situasi didramatisir,
  • Bersifat persuasif.
  • Tanpa dukungan bukti.




D A F T A R    P U S T A K A:
[1.] Dr. Dendy Sugono, Mahir Berbahasa Indonesia Dengan Benar, PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
[2.] Rika Putriana dkk, Ragam Bahasa Indonesia, Makalah. http://www.slideshare.net/tyyadelatorres/bi-makalah-ragam-bahasa-indonesia. Diakses: Sabtu, 4 Oktober 2014.
[3.] Wahyu Diyono, Contoh Makalah Bahasa Indonesia Ragam Bahasa, http://wede56.blogspot.com/2014/03/contoh-makalah-bahasa-indonesia-ragam.html. Diakses: Sabtu, 4 Oktober 2014.
[4.] Yogi Pragoya, Artikel Dengan Ragam Bahasa Ilmiah, Semi Ilmiah & Non Ilmiah, http://akunyogi.wordpress.com/2013/10/22/artikel-dengan-ragam-bahasa-ilmiah-semi-ilmiah-non-ilmiah/. Diakses: Sabtu, 4 Oktober 2014.
[5.] Siti Amalia, Perbedaan Penulisan Ilmiah, Semi Ilmiah, Non Ilmiah, http://stamalia.wordpress.com/2013/12/01/perbedaan-penulisan-ilmiah-semia-ilmiah-non-ilmiah/. Diakses : Sabtu, 4 Oktober 2014.
[6.] Haryanto A.G, dkk. Metode Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah: Buku ajar untuk Mahasiswa. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta 
READMORE